Salak Lokal Tasikmalaya Ini Diolah Menjadi Camilan Lezat, Dipasarkan Hingga ke Nusa Tenggara Timur

Menurut Pipit membuat cemilan dari buah salak membutuhkan waktu. Yaitu proses penjemuran serta penggodokan

Tribun Jabar/Firman Suryaman
Pipit dengan sejumlah produk cemilan unik dari buah salak di tempat usahanya yang bernama Dapur Salak, Jalan KH Khoer Affandi, Kelurahan Ciakar, Kota Tasikmalaya 

BUAH salak lokal dengan harga di pasaran sekitar Rp 2.500 per kg, ternyata bisa menjadi produk cemilan nan lezat dan sudah tentu mendongkrak harga.

Di tangan Suryati (47), buah salak lokal yang kesat dan asam tak berharga menjadi beberapa jenis camilan. Mulai dari cokelat isi selai salak, sale salak, manisan salak, sirup serta kue laktar (kue mirip nastar yang di dalamnya terdapat sale buah salak bukan nanas)

Cita rasa kelima camilan itu terasa manis dan segar. Sirup misalnya selain manis segar juga ada rasa kesatnya.

Buah salak
Buah salak (Tribunnews)

Coklat isi selai salak juga dari tampilan begitu menggoda selera. Begitu dicicipi terasa lezat dengan selai manis di dalamnya khas rasa salak.

Diawali dengan rasa prihatin atas salak lokal yang melimpah di daerahnya dengan harga tak pernah layak, Pipit merintis pembuatan camilan berbahan baku buah salak lokal ini.

Baca juga: Ini Empat Camilan Legendaris Khas Nusantara untuk Teman Belajar atau Menonton Televisi

Ide Pipit diamini sang suami dan bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, Kelurahan Ciakar, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, mulai bereksperimen membuat beberapa produk camilan.

"Itu terjadi tahun 2016 dan dalam tempo cukup singkat ternyata banyak pemesan dan pasar pun mulai terbuka," ujar Pipit, saat ditemui di tempat usahanya bernama Dapur Salak di Jalan KH Khoer Affandi, Ciakar, Selasa (23/11).

Baca juga: Gurih Renyah Jarangking, Camilan yang Wajib Dicoba Saat Datang ke Kabupaten Sukabumi

Menurut Pipit membuat camilan dari buah salak membutuhkan waktu. Yaitu proses penjemuran serta penggodokan. Sekali membuat adonan dari 2-3 kuintal buah salak membutuhkan waktu produksi sekitar satu minggu.

"Jadi produksinya satu minggu sekali dengan lima item produk camilan khas buah salak," ujar Pipit.

Baca juga: Kelompok Wanita Tani Naga Asri di Kalipucang Pangandaran Memproduksi Permen Buah Naga

Pemasarannya tak tanggung-tanggung sampai Sumatera seperti Pekanbaru dan Jambi. Bahkan sesekali dari NTT. "Sedangkan pemasaran di Bandung dan wilayah Jabodetabek sudah biasa," kata Pipit.

Sempat terpuruk lantaran munculnya pandemi Covid-19, usaha pembuatan cemilan buah salak ini mulai bangkit kembali.

Baca juga: Berwisata ke Desa Cirangkong, Petik Sendiri Buah Naga Langsung di Kebunnya, Ada Tempat Kampingnya

"Alhamdulillah, setelah sempat kolaps akibat pandemi kini mulai berdatangan lagi pesanan," ujar Pipit. (Tribun Jabar/Firman Suryaman)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved