Kopi Arabika dengan Kualitas Tinggi dari Kampung Pelag di Desa Sukalilah, Sukaresmi, Garut

"Setelah penemuan oleh orang Costa Rica itu, akhirnya saya kembangkan lewat generatif yaitu penyemaian secara biji"

dok Endut Kuswana
Petani memetik kopi di Kampung Pelag, Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut 

KAMPUNG Pelag yang sempat terisolasi akibat banjir bandang di Garut ternyata merupakan kampung penghasil salah satu kopi terbaik asal Garut peninggalan kolonial Belanda, yaitu Kopi Pelag arabika.

Kawasan yang berada di Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut itu memiliki sejarah yang panjang terkait penemuan kopi legendaris asal Garut.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Endut Kuswana (48) mengatakan Kopi Pelag pertama kali ditemukan oleh salah seorang peneliti asal Costa Rica yang khusus datang ke Garut untuk mengevaluasi sejauh mana populasi kopi yang ada di Kabupaten Garut.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) kampung Pelag, Desa Sukalilah, Garut, Endut Kuswana
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) kampung Pelag, Desa Sukalilah, Garut, Endut Kuswana (dok Endut Kuswana)

"Kopi ini ditemukan awalnya tahun 2009 lewat seseorang yang datang dari Costa Rica, ia datang ke kampung kami Pelag, yang merupakan kawasan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM)," ujarnya saat diwawancarai
Tribun Jabar, Kamis (18/11/2021).

Seseorang tersebut, kata Endut, tidak berlama-lama berada di kawasan Pelag dan langsung menemukan kopi legendaris yang baru ditemukan kembali. Bahkan menurutnya ia hanya sampai di gerbang PHBM dan tidak sampai masuk lebih jauh ke kawasan lainnya.

Baca juga: Waktu Tepat untuk Minum Kopi Adalah Pukul 10.00 Sampai dengan 11.00, Sebaiknya Makan Terlebih Dulu

"Sampai di sana baru masuk gerbang PHBM mereka bilang lewat guide-nya itu, Saya cukup sampai sini aja, Ga usah dilanjutkan karena yang saya cari udah ketemu, bahkan dia bilang bahwa ini kopi saya untuk kopi varietas itu," ujarnya.

Menurutnya Kopi Pelag awalnya hanya tiga pohon, ketiganya itu merupakan peninggalan yang ditanam oleh ayahnya Endut pada tahun 1965. Orang tuanya sendiri tidak mengingat secara pasti dari mana induk kopi tersebut.

Baca juga: Menikmati Kesegaran Segelas Cascara Fresca di Kedai Kopi Apik yang Jadi Tempat Nongkrong Favorit

Setelah penemuan pada 2009 itu Endut akhirnya mengembangkan kopi tersebut dari asalnya yang hanya tiga pohon hingga menjadi ribuan pohon kopi.

"Setelah penemuan oleh orang Costa Rica itu, akhirnya saya kembangkan lewat generatif yaitu penyemaian secara biji, lalu 2013 alhamdulillah dari induk tiga pohon itu menghasilkan bibit 35 ribu," ucapnya.

Baca juga: Kopi Geulis Asal Tanjungsari Akan Diperkenalkan ke 10 Negara, di Amerika Serikat Paling Laris

Dengan penuh kesabaran ia terus mengembangkan menyeleksi sebaik mungkin untuk memisahkan benih yang layak dijadikan bibit atau yang tidak layak.

Kini dari satu pohon kopi bisa menghasilkan puluhan kilogram cherry bahkan ada yang sampai 50 kilogram cherry per satu pohon kopi.

Baca juga: Nongkrong di Kopi Ulin, Sajikan Ngopi Ala Kafe di Pinggir Jalan Kawasan Kota Tua Indramayu

Hingga kini dirinya dan masyarakat Pelag yang menanam kopi bisa memasarkan Kopi Pelag ke berbagai daerah di Indonesia hingga Lombok.

"Kami juga dibantu oleh Indonesia Power, dibantu pemasaran dan perlengkapan alat-alat, Indonesia Power kan membina Kampung Pelag dari mulai Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, nah ekonomi salah satunya kopi," ucapnya.

Baca juga: Kopi Gununghalu yang Pernah Dapat Penghargaan di Paris, Prancis Belum Dipasarkan Secara Maksimal

Melalui Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar diketahui bahwa Kopi Pelag mirip dengan longberry Atjeh abesinia tiga atau mirip dengan gheisa.

"Untuk genetiknya belum diteliti jadi belum diketahui miripnya ke mana," kata Endut.

Kampung yang berpenduduk lebih dari 1.200 jiwa itu nama asli secara administratif ialah Kampung Sukamaju namun orang-orang lebih mengenalnya sebagai Kampung Pelag.

Menurut Endut nama Pelag merupakan nama tegalan yang tidak diketahui asal usul pemberian nama tersebut.

Bahkan menurutnya jika seseorang menyebutkan nama Pelag maka akan ada rasa malu karena Pelag merupakan nama tegalan.

Baca juga: Rocker Juga Terjun di Bisnis Kopi, Produksi Minuman Bernama Koprock, 100 Persen dari Kopi Arabika

"Tidak tahu kenapa dinamain Pelag, bahkan satu-satunya kampung yang paling unik dan tidak ada di daerah lain yaa nama Pelag," ucapnya.

Warga Kampung Pelag merupakan warga yang kesehariannya bertani yang membudidayakan tanaman hortikultura tumpang sari bersama kopi dan sayuran.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved