Berkat GoFood Seblak Cobek Teh Ida di Gang Sempit dan Rameninpo di Pasar Kosambi Laris Manis

Pembeli bisa memilih sendiri beragam isian yang diinginkan, mulai dari kerupuk, sayuran, batagor, mi, tulang, hingga inovasi suki berisi keju

Tribun Jabar/Putri Puspita
Dida Hadiyani, pemilik usaha Seblak Cobek Teh Ida saat memasak pesanan seblak. Berada di gang kecil Jalan Braga, Bandung, Seblak Teh Ida menjadi favorit bagi pelanggan Gofood 

DIKENAL sebagai pusat kuliner, Bandung seringkali menghadirkan berbagai inovasi makanan dengan kualitas rasa yang tidak perlu diragukan lagi.

Uniknya, meskipun lokasi tempat kulinernya sulit dijangkau, atau dikenal dengan sebutan hidden gems, justru semakin diburu karena kualitas rasanya yang tidak mengecewakan.

Seperti Seblak Cobek Teh Ida yang viral di media sosial, cukup banyak orang yang rela mengantre dan memesannya dalam jumlah banyak untuk disantap bersama teman-teman.

Berada di pusat kota, tepatnya di Jalan Braga, Seblak Teh Ida justru tidak mudah untuk ditemukan lokasinya.

Dida Hadiyani, pemilik usaha Seblak Cobek Teh Ida yang berada di gang kecil Jalan Braga, Bandung, yang laris dipesan di Gofood
Dida Hadiyani, pemilik usaha Seblak Cobek Teh Ida yang berada di gang kecil Jalan Braga, Bandung, yang laris dipesan di Gofood (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Gedung tua bergaya kolonial yang menghadirkan berbagai jenis cafe dan restoran yang hits, tentu mudah untuk ditemui dan dikunjungi ketika berjalan kaki di Jalan Braga.

Namun di balik keindahan Jalan Braga yang merepresentasikan Parijs Van Java ini justru terdapat sebuah perkampungan yang tidak terlihat di balik gedung megah bergaya Eropa.

Untuk menemukan Seblak Cobek Teh Ida, Anda perlu berjalan menyusuri Gang Apandi, tepatnya di samping Kopi Toko Djawa.

Baca juga: Ini Cara Membuat Latte Art di Kopi Magma Jalan Braga, Karya Seni dalam Secangkir Kopi

Suasana perkampungan dengan rumah padat penduduk dan berada di gang kecil menjadi sebuah pemandangan berbeda ketika ingin menikmati sajian Seblak Cobek Teh Ida yang viral ini.

Dida Hadiyani, pemilik usaha Seblak Cobek Teh Ida tampak sibuk membuat pesanan seblak yang terus menerus masuk dalam layanan GoFood.

Dida pun begitu cekatan ketika notifikasi pesanan GoFood berbunyi dan mencatatnya dalam kertas putih yang kemudian ia gantungkan di dapur kecil tempat ia membuat seblak.

Baca juga: Aneka Varian Seblak di Warung Mamah Bohay, Harganya Hanya Rp 10.000, Buka Hingga Malam

Aroma bumbu bawang putih dan cikur pun tercium  memenuhi dapur, pembeli yang datang bisa melihat secara langsung bagaimana proses pembuatan seblak cobek ala Teh Ida dengan konsep dapur terbuka ini.

Pembeli bisa memilih sendiri beragam isian yang diinginkan, mulai dari kerupuk, sayuran, batagor, mi, tulang, hingga inovasi suki berisi keju di dalamnya.

Sebelum berjualan seblak, Dida mengatakan, ia menjual bakso di teras rumahnya.

Baca juga: Bakso Balung Sumsum Jadi Favorit di Baso Pacitan Bu Is, Tersedia Beragam Menu Bakso Berkuah Pedas

"Jual bakso pada 2003, baksonya bikin sendiri, cuma d isini banyak juga tetangga yang bikin bakso. Akhirnya pada 2011 saya beralih ke seblak, alhamdulillah rezekinya ternyata di jualan seblak," ujar Dida saat ditemui di warungnya, Selasa (2/11/2021).

Di awal menjual seblak, Dida mengatakan pembelinya kebanyakan berasal dari kalangan anak sekolah di sekitarnya.

Bahkan kata Dida, para pelajar itu bisa membeli hingga 32 bungkus yang biasanya dipesan untuk satu kelas.

Baca juga: Konsistensi Rasa Mie Tegallega yang Terjaga. Minya Lembut, Baksonya Empuk Gurih

Hadirnya Pandemi Covid-19, membuat kegiatan pembelajaran di sekolah harus beralih dilakukan secara virtual dan dilakukan  dari rumah.

Hal ini pun mempengaruhi penjualan seblak cobeknya yang dulu banyak diburu oleh para pelajar.

Untuk mempertahankan penjualannya di situasi yang serba terbatas, Dida pun bergabung dengan Gojek dan pembelinya  pun melejit pesat.

Baca juga: Iga Bakar Mercon, Daging Gurih Empuk Berpadu Sambal, Bisa Pilih Ukuran Porsinya

"Alhamdulillah penjualan meningkat lebih dari 100% malah," ucapnya sambil tersenyum.

Meskipun pada saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) jalan Braga adalah salah satu lokasi yang harus menjalani aturan buka tutup karena berada di pusat kota yang selalu ramai oleh kuliner dan wisatawan.

"Dalam sehari saya bisa menjual 350 porsi dan saya selalu mengutamakan pesanan dari Go-Food karena kasihan kalau mereka nunggu lama, pasti mereka harus cari pesanan lain," ujarnya.

Baca juga: Sensasi Kriuk-kriuk, Rasanya Enak, Porsinya Banyak, Ayam Goreng Krispi di Warung Oseng Mercon

Oleh karena itu pengantar makanan dari GoFood yang datang ke Seblak Cobek Teh Ida, biasanya tidak perlu menunggu lama. Mereka bisa langsung datang dan mengambil makanan secara langsung.

Berada di lokasi yang sulit dijangkau dan tersendat karena aturan PPKM tidak boleh dine-in atau makan di tempat pun dirasakan oleh Rameninpo.

Outlet Rameninpo yang berada di Hallway Space, Pasar Kosambi, Kota Bandung
Outlet Rameninpo yang berada di Hallway Space, Pasar Kosambi, Kota Bandung (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Kuliner ramen yang berada di dalam Pasar Kosambi, tepatnya di Hallway Space ini baru saja buka di masa pandemi.

Founder Rameninpo, Fajar M Iqbal mengatakan, adanya aturan tidak boleh dine-in tentu membuat nya kehilangan banyak pelanggan.

“Pendapatan kita turun 60 sampai 70 persen karena mindset orang berpikir kalau makan ramen itu enaknya di lokasi ,” ujar Fajar saat ditemui di Hallway Space.

Baca juga: Ruang Nongkrong Asyik nan Kreatif di Dalam Pasar Kosambi Kota Bandung

Supaya ramen  bisa dinikmati dari rumah, Rameninpo pun mengemas ramen dengan  kemasan yang lebih menarik, aman, tanpa mengurangi kualitas rasa dari  ramen tersebut.

Namun dengan memanfaatkan layanan GoFood, Rameninpo bisa bertahan dengan pembeli yang memesan dari rumah.

“Meskipun jauh dari target, tapi terbantu dengan pembeli online sebanyak 30 hingga 40 persen. Kami justru terbantu dengan pelanggan setia dari database itu,” ucapnya.

Baca juga: Tiga Pilihan Kuah Ramen di Rameninpo Pasar Kosambi, Harga Terjangkau, Serasa di Kedai Mini Jepang

Menurut Fajar, melalui platform GoFood, ia merasa terbantu dan platformnya lebih ramah untuk digunakan.

Berada di dalam pasar dan lokasinya belum banyak diketahui banyak orang, pengantar makanan dari GoFood biasanya akan menghubungi untuk titik lokasinya.

“Biasanya mereka menghubungi dulu dan konfirmasi lokasinya, apalagi pasar  kan banyak pintunya,” ujarnya.

Sajian berbagai menu ramen di Rameninpo, Hallway Space, Pasar Kosambi
Sajian berbagai menu ramen di Rameninpo, Hallway Space, Pasar Kosambi (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Co Founder dan CEO Gojek, Kevin Aluwi mengatakan, sejak Gojek lahir 11 tahun lalu, selalu menghadrikan inovasi dan teknologi terbaru guna menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Kami percaya melalui inovasi, kami bisa terus mempermudah keseharian hidup masyarakat, khususnya pelaku UMKM untuk terus tumbuh meski di tengah pandemi ” ujar Kevin saat konferensi pers, (27/10/2021).

Kevin mengatakan, saat ini, sudah ada 1 juta mitra usaha kuliner yang memanfaatkan GoFood, yang 99 persen di antaranya berskala UMKM.

Baca juga: Paling Nyaman Bersantai dan Makan di Pusat Kuliner Cimanuk Indramayu, Tak Bikin Kantong Jebol

“Ada 250 ribu mitra usaha baru bergabung di GoFood pada 2020, dan 43

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved