Ini yang Bikin Majalengka Dijuluki Sebagai Kota Angin di Jawa Barat

"Kecepatan angin maksimal bisa mencapai 30 knot. Itu karena angin yang terhalang puncak Gunung Ciremai kemudian berembus lebih kencang ..."

Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Bola Dunia simbol Majalengka yang berada di Bundaran Munjul, Majalengka Kota. 

SEBUTAN kota angin sudah cukup melekat kuat pada  Kabupaten Majalengka. Tidak hanya masyarakat lokal, orang dari luar daerah pun menyebutnya demikian.

Lalu sejak kapan Majalengka dijuluki sebagai kota angin dan siapa orang yang pertama kali memberi julukan tersebut?

Ketua Grup Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana mengatakan, tidak ada catatan sejarah pasti yang menuliskan tentang asal usul julukan kota angin bagi Majalengka.

Suasana Alun-alun Majalengka seusai diresmikan Bupati Majalengka, Karna Sobahi, Senin 8 Februari 2021
Suasana Alun-alun Majalengka seusai diresmikan Bupati Majalengka, Karna Sobahi, Senin 8 Februari 2021 (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

"Kalau sejarah pastinya tidak ada karena di dalam lambang Majalengka sendiri saat ini tidak ada itu simbol angin di situ. Jadi gak dibahas di penyusunan lambang Majalengka soal angin ini," ujar Nana saat dimintai keterangan, Sabtu (23/10).

Ia menjelaskan, julukan kota angin mulai terdengar sekitar tahun 1980. Saat itu memang angin di Majalengka dikenal kencang khususnya pada  Juni-September.

Baca juga: Ini Tujuh Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Alun-alun Majalengka yang Baru Diresmikan

Pria yang akrab disapa Kang Naro ini menduga, julukan Majalengka Kota Angin pertama kali diucapkan oleh orang dari luar Majalengka.

Menurutnya, masyarakat Majalengka sebenarnya tidak pernah mempersoalkan kencangnya kecepatan angin.

Baca juga: Wisatawan Lokal padati Objek Wisata Curug Cipeuteuy Majalengka, Protokol kesehatan Diberlakukan

"Kenapa dibilang kota angin, ya, karena anginnya gede,  Juni-September itu anginnya gede di Majalengka," katanya.

Saking kencangnya, angin di Majalengka juga memiliki sebutan tersendiri. Mulai dari angin ngegelebug (sangat besar) atau angin jalu (pria). 

Bus Motekar Majalengka
Bus Motekar Majalengka (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

"Angin ngegelebug karena kencang suaranya, kemudian angin jalu, kenapa angin jalu karena konotasinya kalau perempuan pakai rok bisa tersingkap roknya, gitu. Tapi kalau dari sejarah gak ada saya cari-cari soal angin itu," jelas dia.

Julukan Majalengka Kota Angin tentunya tidak semata-mata disematkan tanpa alasan.

Prakirawan BMKG Kertajati, Ahmad Faa Iziyn menjelaskan, kecepatan angin kencang di Majalengka terjadi tidak terlepas dari keberadaan Gunung Ciremai.

Baca juga: Pizza Hits Ini Dikirim ke Pemesan Tanpa Ongkos Kirim, Pemiliknya Gemar Memfoto Keindahan Majalengka

Menurutnya, angin yang terhalang puncak Gunung Ciremai akan berembus kencang hingga mencapai kecepatan 25-30 knot atau 46-56 km per jam.

Selain itu, perbedaan tekanan udara di wilayah utara dan selatan juga mempengaruhi kencangnya angin Majalengka.

Baca juga: Desa Nunuk Baru dan Bantaragung di Majalengka Masuk 300 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia

"Kecepatan angin maksimal bisa mencapai 30 knot. Itu karena angin yang terhalang puncak Gunung Ciremai kemudian  berembus lebih kencang ke wilayah Majalengka, serta adanya perbedaan tekanan udara sehingga terjadi peningkatan kecepatan angin," kata Faiz, biasa ia disapa.

Objek wisata Situ Cipanten di Desa Gunung Kuning, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka
Objek wisata Situ Cipanten di Desa Gunung Kuning, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Tidak hanya itu, adanya angin kumbang atau bahasa latinnya fohn yang biasa terjadi pada  Agustus, September, dan Oktober, juga mempengaruhi peningkatan kecepatan angin di Majalengka.

Baca juga: Ratusan Pendaki Pilih Jalur Pendakian Apuy di Majalengka untuk Mendaki Gunung Ciremai

"Angin fohn adalah angin yang bertiup turun sepanjang lereng gunung menuju ke dataran yang lebih rendah dengan suhu udara tinggi dengan tingkat kelembaban udara rendah. Fohn merupakan hasil aliran angin pegunungan yang dapat menghembuskan lebih dari 25 knot per jam. Jadi Secara umum saat musim kemarau angin berasal dari arah Tenggara, langsung melewati Gunung Ciremai. Embusan angin kencang disertai kondisi panas sering kali dirasakan oleh masyarakat Majalengka, maka dari itu Majalengka mendapatkan julukan sebagai Kota Angin," ujarnya. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved