Gorengan Gangster Ini Ukurannya Besar-besar, Harganya Hanya Rp 1.000, Dijual Malam Hari

Harga yang kami jual Rp 1.000 satu potong. Dalam semalam alhamdulilah bisa kejual 4000 potong sampai menghabiskan satu kuintal tepung terigu

Tribun Jabar/Ferdyan Adhy Nugraha
Gorengan Gangster di Pasar Ujungberung, Kota Bandung 

GORENGAN seperti bala-bala, gehu, pisang goreng, dan cireng merupakan makanan favorit bagi banyak orang. Harganya yang murah, enak rasanya, serta mudah didapatkan menjadi alasan orang-orang untuk memakannya.

Di Pasar Ujungberung atau tepatnya jalan Nagrok, terdapat sebuah lapak yang menjual gorengan dengan nama unik. Lapak tersebut dinamakan Gorengan Gangster.

Ade Toha, selaku pemilik mengatakan nama unik ini merupakan pemberian dari mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati ( UIN SGD ) . Nama ini diberikan karena saat itu, Kota Bandung sedang ramai masalah gangster.

"Jadi waktu awal berdiri di tahun 2004, kami belum punya nama. Cuma sekitar tahun 2009, karena mahasiswa UIN SGD banyak yang ke sini waktu tengah malam dan lagi banyak gangster jadi dinamakan Gorengan Gangster," ujar Toha .

Gorengan Gangster di Pasar Ujungberung yang ukurannya besar-besar
Gorengan Gangster di Pasar Ujungberung yang ukurannya besar-besar (Tribun Jabar/Ferdyan Adhy Nugraha)

Nama Gorengan Gangster, lanjut Ade, sempat mengundang banyak pertanyaan dari para pembeli. Bahkan ada yang mengira penjual merupakan gangster.

"Banyak yang datang terus bilang 'kok gak kaya gangster penjualnya', biasanya kan tatoan atau ya kaya gangster lah'," katanya.

Baca juga: Jajanan Pinggir Jalan Ala Korea Hadir di Kawasan Kiaracondong, Ada Incheon Chicken Wings yang Lezat

Selain itu, hal yang membuat gorengannya unik adalah soal ukuran. Ade mengungkapkan, gorengannya memiliki ukuran cukup besar dengan harga yang relatif lebih murah.

"Harga yang kami jual Rp 1.000 satu potong. Dalam semalam alhamdulilah bisa kejual 4000 potong sampai menghabiskan satu kuintal tepung terigu," katanya.

Baca juga: Okonomiyaki Lezat Harga Terjangkau Kantung Mahasiswa di Dekat Kampus Unpad Jalan Dipatiukur

Adapun gorengan yang dijual kurang lebih sama seperti pedagang pada umumnya. Mulai dari bala-bala, gehu, cireng, tempe goreng, risoles, lontong, hingga yang manis seperti donat serta pisang goreng.

"Kami buka sekitar habis magrib. Kalau tutup paling malam saat ini sekitar pukul 02.00. Alhamdulilah selalu habis," katanya.

Baca juga: Ayam Crisbar Hadirkan Cara Baru Nikmati Ayam Krispi yang Dibakar, Jadi Menu Hits Mahasiswa Bandung

Namun di balik kesuksesan Ade menjual gorengan, ada cerita duka yang datang. Paling berat adalah ketika menghadapi pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020.

"Penjualan sempat turun drastis saat Covid-19. Sekolah pada libur, kampus juga, terus pesantren yang biasanya beli waktu malem sekarang gak ada karena sedang libur," katanya.

Baca juga: Camilan Bola-bola Ayam Goreng Bersaus Madu yang Lezat Dinikmati Saat Masih Panas

Kondisi ini membuat Ade berpikir keras agar usahanya tetap jalan. Apalagi dia mengaku memiliki lima karyawan yang harus dihidupi.

"Ya sekarang hanya bisa berharap pandemi segera selesai. Karena sangat terasa ke penjualan. Apalagi waktu kemarin-kemarin pas Covid sedang tinggi-tingginya," katanya.

Saat ini, Covid-19 pun sedikit demi sedikit sudah mulai melandai. Dia berharap kondisi ini bisa segera berakhir karena terasa sangat berat baginya. (Tribun Jabar/Ferdyan Adhy Nugraha)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved