Sate Gule Kambing Kang Dedi Sudah Berjualan Sejak 1950, Pelanggannya Mulai Lurah Hingga Gubernur

"Saya sering kirim sate dan gule ke Sukamiskin karena pelanggan setia, waktu pak Dada Wali kota, sering diundang ke Pendopo jika ada acara"

Tribun Jabar/Tiah SM
Gule kambing Kang Dedi di Jalan Astanaanyar depan toko no 108, Bandung 

JIKA sudah mencicipi Sate dan Gule Kang Dedi di Jalan Astanaanyar Kota bandung, tepatnya depan toko Jalan Astanaanyar No 108 pasti ketagihan.

Gule Kang Dedi bertahan berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL) sejak tahun 1950, sudah empat generasi melanjutkan berjualan sate dan gule kambing.

Hebatnya, walau berjualan di trotoar pinggjr jalan pelanggannya para pejabat, mulai camat, wali kota, gubernur, Kapolda dan pejabat lainnya.

Warung gule dan sate Kang Dedi di Jalan Astanaanyar depan toko no 108, Kota Bandung
Warung gule dan sate Kang Dedi di Jalan Astanaanyar depan toko no 108, Kota Bandung (Tribun Jabar/Tiah SM)

Lebih hebat lagi para pejabat jika datang rombongan rela duduk di trotoar menikmati sate dan gule yang rasanya berbeda dengan tempat lain. Gule kambingnya kental dan rempahnya terasa harum menyebgat.

Kang Dedi (55) yang kini mengelola bersama putranya Dani (27) menuturkan, berjualan gule dan sate dirintis oleh kakeknya tahun 1950. Kemudian dilanjutkan oleh ayahnya tahun 1957. Sedangkan Dedi ikut berjualan sejak tahun 1975, masih sekolah dasar.

Baca juga: Sate Toe Khas Kalipucang Pangandaran, Rasanya Enak dan Harganya Murah

Dedi mengingat pejabat yang berlangganan sate gulenya dimulai sejak Wali Kota Otje Djunjunan, suaminya Ibu Popong.

"Pak gubernur sejak tahun 1980-an sering makan sate dan gule, selain makan kadang membeli untuk dibawa pulang, yang sering gubernur Dany Setiawan," ujar Dedi.

Baca juga: Sate kambing Muda di Tanjungsari ini Benar-benar Empuk Lezat, Daging Kambingnya Disembelih Dadakan

Menurut Dedi langganan setia sampai saat ini para pejabat Pemkot Bandung termasuk pak Dada Rosada.

"Saya sering kirim sate dan gule ke Sukamiskin karena pelanggan setia, waktu pak Dada Wali kota, sering diundang ke Pendopo jika ada acara, " ujar Dedi.

Baca juga: Rekomendasi 9 Sate Kambing Enak di Bandung, Wajib Dicicipi Saat Liburan ke Bandung

Dedi mengatakan, sate dan gule yang dibuatnya dari domba muda yang dipasok dari peternak langsung. "Sehari kadang bisa dua ekor domba jika sedang ramai," ujarnya.

Saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Dedi sempat tak berjualan, tapi kini ia bisa berjualan kembali.

Warung gule dan sate Kang Dedi di Jalan Astanaanyar depan toko no 108, Kota Bandung
Warung gule dan sate Kang Dedi di Jalan Astanaanyar depan toko no 108, Kota Bandung (Tribun Jabar/Tiah SM)

Dedi pun kini mengajarkan Dani, putranya berjualan. Tempat makan ini buka mulai pukul 18.00 sampai 22.00 dengan harga 10 tusuk sate Rp 50 ribu dan seporsi gule Rp 50.000.

Sate Kang Dedi ukurannya besar-besar dan empuk lagi, apalagi gulenya porsi cukup banyak dengan daging empuk, kuah kental, dan bumbu rempah maknyus. (Tribun Jabar/Tiah SM)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved