Nasi di Warung Ibu Eha Ini Dimasak Khusus, Langganan Keluarga Bung Karno, Masakan Sunda Lezat

"Sejak awal menjual masakan. Dulu, selain masakan Sunda, ada makanan Belanda-nya seperti steik. Tapi sekarang hanya menyediakan masakan Sunda

Tribun Jabar/Putri Puspita
Julaeha (91), pemilik Warung Ma Eha di Pasar Cihapit, Kota Bandung 

PENGUNJUNG Warung Ibu Eha tampak begitu lahap menikmati makanan yang terhidang di hadapannnya. Berada di pojok Pasar Cihapit, Kota Bandung, warung makan legendaris yang juga sering disebut warung Ma Eha itu terasa begitu hangat dan tetap bertahan di masa pandemi Covid-19.

Menghadirkan makanan sederhana ala rumahan, berbagai menu makanan khas Sunda ini bisa Anda cicipi ketika berkunjung ke Warung Ibu Eha.

Pemilik warung makan yang jadi langganan sejak zaman Soekarno ini biasa duduk di meja kasir. Senyum ramah langsung terpancar dari wajahnya ketika pengunjung menyapanya.

Warung Ma Eha di Pasar Cihapit Kota Bandung
Warung Ibu Eha di Pasar Cihapit Kota Bandung (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Meskipun usianya menginjak 91 tahun, Julaeha (demikian nama lengkap Ma Eha), tampak begitu sehat dan ingatannya begitu bagus.

Ma Eha mengatakan warung nasinya berdiri sejak zaman Belanda, lalu ia meneruskan pada tahun 1960.

"Sejak awal menjual masakan. Dulu, selain masakan Sunda, ada makanan Belanda-nya seperti steik. Tapi sekarang hanya menyediakan masakan Sunda," ujar Ma Eha saat ditemui di warungnya.

Baca juga: Nikmati Lezatnya Kuliner Tradisional Sunda dan Suasana Hutan di Leuweung Seni Purwakarta

Berbagai menu khas Sunda seperti gepuk, perkedel, sayur, tahu, dan tempe bisa Anda temukan sebagai hidangan untuk disantap.

Saat ini, kata Ma Eha, dia hanya hanya memantau proses pembuatan setiap menu. Ma Eha juga selalau memantau bahan dan mengawasi pegawainya memasak.

Baca juga: Makan Sepuasnya Rp 10 Ribu di Kedai Kaki Gunung Ciremai, Menu Khas Sunda Plus Sayur Lodeh

Menurut Ma Eha, dia selalu menggunakan bumbu, yang secara turun-temurun dipakai orang tuanya.
Hal yang membedakan dari tempat lain ketika menikmati santapan Ma Eha adalah nasi. Nasi yang dihidangkan di warung Ibu Eha dibuat secara khusus.

Foto Bung Karno dan keluarga menghiasi Warung Ma Eha di dalam Pasar Cihapit, Kota Bandung
Foto Bung Karno dan keluarga menghiasi Warung Ma Eha di dalam Pasar Cihapit, Kota Bandung (Tribun Jabar/Putri Puspita)

"Nasinya didandang pakai kukusan dan dialasi daun pisang. Nasi tidak dimasak menggunakan magic com. Dulu masaknya di atas tungku dan menggunakan kayu bakar, sekarang pakai kompor," ujar Ma Eha kepada Tribun Jabar.

Ma Eha mengatakan ia tidak memiliki rahasia atau trik khusus untuk membuat masakannya diminati pelanggan hingga sekarang.

"Bumbu masakannya biasa tapi yang penting harus bersih," kata perempuan yang lahir di Bandung 31 Desember 1931.

Baca juga: Ayam Kalasan Lezat yang Berpadupadan dengan Cita Rasa Khas Sunda, Tempatnya Nyaman

Pandemi Covid-19, kata Ma Eha, membuat pengunjung warungnya menurun. Pada masa sebelum pandemic, kata Ma Eha, pengunjung warung makannya datang dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan karyawan dari banyak perusahaan.

"Sekarang, pengunjung berkurang sekarang karena anak sekolah belum masuk normal. Biasanya banyak orang tua yang nunggu anaknya sekolah makan di sini. Sekarang saja bikin perkedel cuma 3 kilogram, biasanya sampai 6 kilogram," ujar Eha.

Baca juga: Nikmatnya Makanan Khas Sunda Diracik dengan Kecombrang, Gimana Rasanya Ya?

Meskipun ada pandemi, Ma Eha menegaskan dia tidak berniat beralih untuk mencoba usaha lain.

Di usianya yang lanjut, Eha pun bersyukur masih tetap diberi kesehatan.

"Alhamdulillah enggak pernah sakit parah. Resepnya jaga makanan saja dn konsumsi makanan yang sehat. Paling, tiap pagi minum susu dan kopi saja," kata Ma Eha tentang rahasia dia tetap sehat dan panjang usia.

Memasuki warung nasi Ibu Eha ini kita akan menangkap keunikan yang bukan hanya menu dan rasa masakannya.

Warung Ibu Eha di dalam Pasar Cihapit, Kota Bandung
Warung Ibu Eha di dalam Pasar Cihapit, Kota Bandung (dokumentasi Tribun Jabar)

Di dinding warung Ma Eha, terpasang foto keluarga Presiden pertama Indonesia Soekarno. Di dinding warung yang ditata secara sederhana ini juga terpasang foto tokoh-tokoh terkenal lain, di antaranya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Baca juga: Bosan Dengan Makanan Kekinian? Yuk Ke Warung Ayakan, Hadirkan Makanan Khas Otentik Sunda

Menurut Ma Eha, putra sulung Soekarno dari Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, adalah salah satu pelanggan setia warung nasinya. Guntur sering makan di warung Ma Eha ketika masih tercatat sebagai ITB di tahun 1966. (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved