Si jagur Meriam Peninggalan Belanda yang Kini Terpajang di Halaman Disparbud Karawang

Si Jagur diperkirakan dibuat pada Tahun 1884. Saat itu ia menjadi senjata tercanggih untuk menjaga Benteng Belanda Distrik Cabangbungin

Tribun Jabar/Cikwan Suwandi
Meriam si Jagur di halaman kantor Disparbud Kabupaten Karawang, Jalan Alun-alun Selatan No 1, Karawang 

DI halaman Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Karawang, jalan Alun-alun Selatan No 1,  terpajang sebuah besi tua bekas senjata meriam.

Warnanya kini sudah mengilap hitam. Kendati di simpan di halaman, tak sembarangan orang untuk menyentuhnya, rantai menjaganya dari tangan orang jahil dan beton putih menjadi penyanggahnya dari tanah.

Maklum saja, hampir 78 tahun dari 1941 hingga 2019. Meriam berjuluk "Si Jagur dari Utara Karawang" itu terbengkalai dalam sebuah bangunan bekas Kantor Kawedanaan Rengasdengklok yang menjadi  tempat parkir Pasar Tradisional.

Meriam Si Jagur yang berada di halaman Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, Jalan Alun-alun Selatan No 1, Karawang
Meriam Si Jagur yang berada di halaman Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, Jalan Alun-alun Selatan No 1, Karawang (Tribun Jabar/Cikwan Suwandi)

"Kami selamatkan pada Tahun 2020 dan membawanya ke Kantor Dinas," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, Firman Sofyan kepada Tribun Jabar, Rabu (13/10/2021).

Firman Sofyan mengungkapkan, Si Jagur merupakan sebutan untuk meriam tersebut dari masyarakat. "Memang sudah julukan dari warga sekitar," katanya.

Baca juga: Kota Bandung Segera Memiliki Jalur Wisata Bersepeda Menyusuri Jejak Sejarah Bandung Lautan Api

Si Jagur diperkirakan dibuat pada Tahun 1884. Saat itu ia menjadi senjata tercanggih untuk menjaga Benteng Belanda Distrik Cabangbungin dalam mengamankan pelabuhan dan gudang garam milik Belanda.

"Meriam ini digunakan untuk melindungi serangan perahu-perahu dari laut utara," katanya.

Kemudian, setelah Benteng Belanda Distrik Cabangbungin hancur dan tidak berfungsi. Meriam itu dipindahkan ke Kantor Kawedanaan Rengasdengklok pada Tahun 1941.

Baca juga: Warga Ciamis Bisa Ngabuburit di Bulan Ramadan dengan Naik Bus Gatrik Keliling Tempat Bersejarah

Meriam ini berukuran panjang 164 cm, diameter atas 23 cm, diameter bawah 33 cm. "Kalau untuk beratnya saya kurang tahu, tetapi memang cukup berat," katanya.

Firman Sofyan mengakui, saat ini terpajangnya Si Jagur di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang menjadi daya tarik untuk dikunjungi warga. "Banyak warga yang saat ini foto dengan meriam," katanya.

Baca juga: Kisah Sejarah di Curug Walanda Citatah, Potensi Objek Wisata di Kabupaten Bandung Barat

Ia menambahkan, sebelumnya tak ada yang berani sebelumnya mengangkat Si Jagur. Konon ketika ada yang memindahkan si meriam itu, dikatakan Firman, maka akan jatuh sakit berkepanjangan sebelum meriam itu dikembalikan ketempat semula.

Firman Sofyan mengaku, untuk memindahkan meriam Si Jagur ke Kantor Disparbud Karawang diperlukan sejumlah ritual yang dilakukan oleh sejumlah juru pelihara.

Baca juga: Disparbud Jabar Dampingi 127 Desa Wisata di Jawa Barat Mengikuti Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

"Malah sistem pemindahan tidak sembarangan, maka kita ada ritual dulu yang dilakukan jupel di makam mbah Masrin dan juga di kawedanaan," katanya.

Firman Sofyan juga menyebutkan dalam proses pemindahan meriam Si Jagur, sejumlah anak buahnya sempat lari terbirit-birit karena melihat sosok hantu yang mengenakan seragam tentara Belanda.

Baca juga: Burung Hantu Sekilas Tampak Seram Namun Ternyata Lucu, Penangkarannya Ada di Indramayu

"Mitos lainnya, saat ini disimpan di gudang. Anak buah saya, waktu itu sekitar jam 8 (malam), katanya ada sosok tentara Belanda, tinggi gede. Dan semua lari," katanya.

Selama dipajang di halaman Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang, kata Firman, tidak pernah terjadi cerita gaib apa pun.

Baca juga: Suasana Indah Ngopi di Atas Awan Tempatnya Ada di Kawasan Wisata Puncak Sempur Kabupaten Karawang

"Kalau sekarang Alhamdulillah tidak ada, karena mungkin tahu tujuan kita ini untuk merawatnya, untuk mengingat sejarah," katanya. (Tribun Jabar/Cikwan Suwandi)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved