Di Kabupaten Bandung Barat Tercatat ada 16 Desa Wisata yang Dikelola Kelompok Sadar Wisata

"Ada desa wisata yang telah berprestasi, seperti Pokdarwis Desa Gunungmasigit tahun 2017 jadi juara dua tingkat nasional kategori Pokdarwis"

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Curug Malela di Kabupaten Bandung Barat 

DINAS Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat, hingga saat ini ada 16 Desa Wisata yang masih perlu untuk dikembangkan supaya bisa bersaing dengan objek wisata lain.

Sebanyak 16 Desa Wisata tersebut tersebar seperti di Kecamatan Lembang, Parongpong, Cisarua, serta di daerah selatan dan barat KBB yang dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan komunitas pariwisata.

"Saat ini yang terinventarisasi ada 16 desa wisata. Kami optimistis kehadiran desa wisata ke depan akan lebih berkembang lagi mengingat potensi yang dimiliki 165 desa di KBB sangat banyak," ujar Kabid Pariwisata, Disparbud KBB, David Oot, Minggu (19/9/2021).

Warga menunjukan lokasi penemuan koin kuno di Kampung Pangkalan Hillir, Desa Cimanggu, Ngamprah, KBB yang akan dijadikan objek wisata air panas.
Warga menunjukan lokasi penemuan koin kuno di Kampung Pangkalan Hillir, Desa Cimanggu, Ngamprah, KBB yang akan dijadikan objek wisata air panas. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

David mengatakan, desa wisata yang ada pengelolaannya dilakukan oleh Pokdarwis itu dibentuk atas rekomendasi pihak desa. Mereka, mengelola wisata alam di lahan Perhutani, sehingga ada perjanjian kerja sama (PKS) yang dibuat terlebih dahulu dalam pengelolaannya. 

"Ada desa wisata yang telah berprestasi, seperti Pokdarwis Desa Gunungmasigit tahun 2017 jadi juara dua tingkat nasional kategori Pokdarwis. Kemudian Desa Wisata Cibodas yang jadi juara keempat dalam tata kelola home stay," ujarnya. 

Baca juga: Disparbud Jabar Dampingi 127 Desa Wisata di Jawa Barat Mengikuti Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Untuk mengembangkan Desa Wisata itu, pihaknya melatih Pokdarwis, Komunitas Pariwisata dan kepala desa dengan melihat rintisan desa wisata yang sudah berkembang agar pascapandemi Covid-19 eksistensi desa wisata bisa semakin berkembang. 

"Kami ingin skill (kemampuan) stakeholder kepariwisataan seperti Pokdarwis, komunitas pariwisata, hingga kepala desa di daerah, dalam pengelolaan desa wisata bisa lebih berkembang lagi," kata David.

Baca juga: Desa Cisande di Sukabumi Masuk 50 Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia

Ia mengatakan, pelatihan tersebut meliputi Pelatihan Pengelolaan Desa Wisata yang disupport DAK non fisik dari Kemenparekraf supaya bisa melahirkan desa-desa wisata yang berprestasi lagi.

Vila di Kawasan Wisata Natural Hill di Jalan Kolonel Masturi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB)
Vila di Kawasan Wisata Natural Hill di Jalan Kolonel Masturi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) (Tribun Jabar/Wildan Noviansah)

"Semoga melalui peran kelompok masyarakat sebagai ujung tombak yang bersentuhan langsung ke wisatawan, bisa mendongkrak eksistensi desa wisata," ujarnya.

Baca juga: Desa Cibuluh Kecamatan Ujungjaya Sumedang Akan Dikembangkan Menjadi Desa Wisata,

Dengan demikian, kata David, nantinya setelah pandemi Covid-19 berakhir dan objek wisata bisa dibuka lagi, mereka sudah siap untuk mengembangkan desa wisata yang ada di wilayahnya. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved