Hanya Dua Objek Wisata di Kabupaten Bandung yang Boleh Dibuka, Tapi Pinus Tilu Pangalengan Buka

"Makanya kemarin itu sudah kami tegaskan, pada saat rapat, jangan dulu beraktivitas, karena ini kan masih dalam perpanjangan (izin) prosesnya"

Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Glamping di Pinus Tilu tempat wisata alam di Pangalengan, Kabupaten Bandung 

TEMPAT wisata di Kabupaten Bandung hingga kini, ditutup sementara karena masih menerapkan PPKM Level 3.

Hanya terdapat dua tempat wisata, yang diujicobakan dibuka, yakni Kawah Putih dan Glamping Lakeside, di Rancabali.

Walau demikian masih terdapat tempat wisata yang bandel, yang memaksakan beroperasi meski belum diperbolehkan. Seperti halnya, Pinus Tilu yang merupakan tempat wisata alam di Pangalengan.

Kebun teh Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung
Kebun teh Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Tempat tersebut sempat viral, dan kini terlihat beroprasi, padahal pihak Perhutani menganjurkan untuk tidak ada aktivitas terlebih dahulu karena proses izinnya belum selesai. Pasalnya tempat tersebut berada di wilayah pengelolaan Perhutani.

Namun tetap saja tempat tersebut terlihat dibuka, terdapat beberapa pengunjung di tenda-tenda yang berada di sisi sungai itu.

Menurut Waka ADM Perhutani Bandung Selatan, Nurul A, terkait Pinus Tilu kalau dilihat tidak merusak bentang alam tidak ada pelanggaran.

Baca juga: Penutupan Objek Wisata di Kota Bandung Tak Pengaruhi Kunjungan ke Tempat-tempat Wisata di Rancabali

"Apalagi dengan peraturan pemerintah yang sekarang nomor 8 tahun 2021, itu di dalam kawasan hutan boleh dimanfaatkan jasa lingkungan, diantaranya 10 persennya itu sarana dan prasarana," kata Nurul, saat meninjau tempat wisata di Pangalengan, Kamis (16/9/201).

Saat disinggung mengenai adanya glamping di Pinus Tilu tepat berada di sisi sungai, kata Nurul, itu kan ada proses.

"Kami juga di dalam tim merekomendasikan kepada pengelola itu, ada aspek lingkungan dan pengelolaannya. Khusus untuk di daerah aliran sungai sepanjang itu tidak merusak bentang alam itu bisa," kata Nurul.

Tapi kata Nurul, ada namanya Upaya Pengkelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UKL-UPL).

Baca juga: Wisatawan Pilih Menikmati Keindahan Kebun Teh Rancabali Setelah Objek Wisata di Pacira Ditutup

"Mereka harus menyampaikan itu dulu. Bisa tidak dilakukan di situ, ada mitigasi bencana lah," ujarnya.

Secara aturan di Permenhut tahun 2021, kata Nurul, tidak ada masalah. "Intinya disitu bisa, tapi ada yang harus dipenuhi oleh pengelola terkait UKL-UPL nya yang harus ditempuh," kata dia.

Menurut Nurul, untuk mitigasi bencana Pinus Tilu masih dikaji olehnya.

"Makanya kemarin itu sudah kami tegaskan, pada saat rapat, jangan dulu beraktivitas, karena ini kan masih dalam perpanjangan (izin) prosesnya. Makanya sekarang pengen ketemu (pengelola Pinus Tilu) itu karena saking gemesnya ini," katanya.

Nurul mengaku, beberapa kali mendapat laporan dari teman-temannya, dari yang lain, disini penuh katanya, padahal penuh itu gak tau ya.

Baca juga: Hanya Glamping Lake Side dan Kawah Putih di Ciwidey yang Diuji Coba Dibuka untuk Wisatawan

"Nah ini dalam tahap itu pak, dalam tahap proses itu kami memang harus gerakan cepat. Saya lihat ko masih jalan, walaupun prosesnya masih berjalan (belum selesai)," katanya.

Menurut pantauan tribun jabar, terlihat pengunjung di tempat kemah Pinus Tilu tersebut. Mereka terlihat sedang menikmati suasana yang ada. (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved