Wedang Jahe dan Kue Balok Buatan Ismail Edwin di Tanjungsari Sumedang Laris Diserbu Pembeli

"Hitung-hitungan nih. Dulu sebelum pandemi, semalam saya hanya dapat Rp200ribu. Kini bisa Rp 500 ribu dari menjual wedang saja"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Ismail Edwin, penjual jahe seduh di Desa Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang,Minggu (15/8/2021) 

TANGAN Ismail Edwin (35) yang gempal, tampak tetap tangkas menyajikan wedang jahe untuk pelanggan-pelanggan yang datang ke kedainya di pinggir Jalan Raya Bandung-Sumedang, tepatnya di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang

Hari memang hampir Magrib, namun Ismail Edwin malah semakin terbakar semangat. 

Di masa Pandemi Covid-19, wedang, minuman yang terbuat dari rempah-rempah bercampur gula atau susu diseduh air panas sedang bagus pamornya. 

Ismail Edwin siap mengangkat kue balok dari adonan di jongkonya yang berada di halaman Kantor Desa Tanjungsari, Jalan Raya Bandung-Sumedang, Minggu (15/8/2021)
Ismail Edwin siap mengangkat kue balok dari adonan di jongkonya yang berada di halaman Kantor Desa Tanjungsari, Jalan Raya Bandung-Sumedang, Minggu (15/8/2021) (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Jika pedagang lain mengeluh karena pendapatan berkurang selama pandemi, Ismail sebaliknya. Usaha jualan wedang seduhnya laris manis. 

Lapak usaha Ismail Edwin adalah halaman kantor Desa Tanjungsari. Di bawah kain terpal yang dibentangkan menjadi semacam saung terbuka, Ismail berdagang sejak pukul 17.00 hingga 22.00.

Jika ramai pengunjung, atau pembeli yang menggunakan jasa kurir makanan, Ismail bisa pulang lebih awal. Pukul 20.00 kadangkala dagangannya sudah habis. 

Baca juga: Menikmati Nasi Merah di Tengah Kesegaran Alam Hamparan Sawah di Saung Kawangi Tanjungsari Sumedang.

"Hitung-hitungan nih. Dulu sebelum pandemi, semalam saya hanya dapat Rp 200ribu. Kini bisa Rp 500 ribu dari menjual wedang saja," katanya, saat ditemui TribuJabar.id di lapak dagangannya, Minggu (14/8/2021) malam.

Namun, keuntungan itu juga setimpal dengan harga bahan baku jahe merah yang merangkak naik di pasaran. Kini, Ismail Edwin membeli dengan harga Rp 30 ribu per kilogram, dari yang sebelumnya hanya Rp25 ribu. 

Wedang jahe yang menjadi menu di kedai pinggir jalan milik Ismail cukup beragam. Bukan hanya seduhan jahe dicampur gula aren atau susu, namun juga dicampur rempah-rempah seperti serai, kayu manis, kayu secang, dan daun pandan.

Jongko wedang jahe & kue balok milik Ismail Edwin di halaman Kantor Desa Tanjungsari, Jalan Raya Bandung-Sumedang, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang
Jongko wedang jahe & kue balok milik Ismail Edwin di halaman Kantor Desa Tanjungsari, Jalan Raya Bandung-Sumedang, Tanjungsari, Kabupaten Sumedang (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Banyak yang percaya minuman semacam ini bisa memperkuat imun tubuh," katanya sambil selang berselang menjawab pertanyaan pelanggan. 

Ismail mengatakan pelanggan yang datang ke lapaknya lebih banyak dibandingkan pemesan melalui aplikasi kurir makanan.

Minuman wedang jahe yang membuat hangat badan jika diminum ini berkisar harga satu gelasnya Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu. 

Baca juga: Sate kambing Muda di Tanjungsari ini Benar-benar Empuk Lezat, Daging Kambingnya Disembelih Dadakan

Namun, bukan hanya wedang jahe. Para pengunjung juga diberi menu kudapan berupa kue balok yang masih dalam kondisi hangat. 

Sebabnya, Ismail membuat kue balok itu secara dadakan, menggunakan cetakan dari alumunium yang diapit dua tumpukan bara api dari arang.  

Kue balok ini beragam varian rasa. Di antaranya, original, brownies cokelat, green tea, dan taro. Ismail Edwin mengatakan, dari penjualan kue balok ini, pendapatannya bisa mencapai Rp1 juta per malam.

Ismail Edwin sedang menyiapkan wedang jahe pesanan konsumen di jongkonya yangberada di halaman Kantor Desa Tanjungsari, Sumedang, MInggu (15/8/2021)
Ismail Edwin sedang menyiapkan wedang jahe pesanan konsumen di jongkonya yangberada di halaman Kantor Desa Tanjungsari, Sumedang, MInggu (15/8/2021) (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Kalau wedang dalam semalam bisa habis 60 gelas, kue balok ini bisa menghabiskan adonan 4 kilogram," kata Ismail yang sudah tiga tahun berjualan wedang dan kue balok di pinggir Jalan Tanjungsari itu.

Ismail mengaku betah berjualan di pinggir jalan dan melakukan segala sesuatunya sendirian, dari mulai meracik wedang, membuat adonan kue balok, merapikan lapak dagang, melayani pelanggan, hingga membereskan lapaknya kembali.

Baca juga: Menghikmati Angin Lembah di Koffie Tandjoeng Sumedang Sambil Menyeruput Kopi Spesial Olahan Kaum Ibu

Sebabnya, jauh sebelum berdagang, Ismail memang anak nongkrong. Bersama komunitas sepeda motor Vespa, dia sering menghabiskan waktu bercengkrama di tepian jalan bahkan hingga lupa bahwa waktu telah larut.

Hingga suatu hari, terbersit di dalam benaknya untuk memiliki tempat nongkrong yang di tempat itu dia bisa menghasilkan uang. 

Baca juga: Desa Cibuluh Kecamatan Ujungjaya Sumedang Akan Dikembangkan Menjadi Desa Wisata,

Maka, mulailah dia bertanya-tanya tentang kedai wedang kepada teman pemberi resep wedang dari Situraja, Sumedang, dan kepada teman pemberi resep kue balok dari Cicalengka, Kabupaten Bandung. 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved