Rumah Tempat Pengasingan Pahlawan Cut Nyak Dien di Sumedang Masih Terawat, Tempat Belajar Al-Qur'an

Dia dimakamkan di kawasan Gunung Puyuh, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Makamnya  baru diemukan pada 1959

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Bekas rumah pahlawan nasional Cut Nyak Dien di Jalan Pangeran Soeria Atmadja, Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang 

RUMAH model tua berbilik bambu itu sangat mencolok. Deretan bangunan lain mulai dari yang sederhana hingga yang mewah di Jalan Pangeran Soeria Atmadja, Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, bahkan kalah menawan arsitekturnya.

Setengah ke bawah hingga tegelnya, adalah susunan kayu jati yang dipernis, sehingga mengkilat jika terlumuri sinar matahari. Sisanya ke atas, bilik bambu yang motifnya berukuran besar dengan aksen warna coklat.

Rumah seluas 29 meter persegi itu masih menggunakan genting palentong, genting tua yang biasa dipakai pada rumah-rumah di zaman penjajahan Belanda, dan berdiri mengandalkaan sanggaan enam tiang kayu jati.

Rumah pahlawan nasional Cut Nyak Dien di Jalan Pangeran Soeria Atmadja, Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan.
Rumah pahlawan nasional Cut Nyak Dien di Jalan Pangeran Soeria Atmadja, Kotakulon, Kecamatan Sumedang Selatan. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Jauh melebihi sekedar model bangunan, rumah itu bernilai sejarah. Ratu perang Aceh, Cut Nyak Dien menghabiskan dua tahun akhir hayatnya di rumah milik keluarga KH Ilyas tersebut.

Nenden Dewi Rosita (55), adalah juru pelihara situs bersejarah itu. Dia sendiri adalah buyut KH Ilyas, tokoh agama di Sumedang yang pada tahun 1908, menerima rombongan Cut Nyak Dien yang beranggotakan empat orang.

"Leluhur saya berkisah, ketika Cut Nyak Dhien diasingkan ke Sumedang, dalam keadaan mata yang sudah rabun, dia digendong oleh agam (bujang), dan diterima di rumah ini," kata Nenden, saat ditemui TribunJabar.id, di rumah tinggal Cut Nyak Dien, Sabtu (7/8/2021).

Namun, katanya, hingga generasi ibunya, tak ada orang mengenal siapa sesungguhnya perempuan yang di akhir hidupnya mengajarkan membaca Alquran kepada warga di seputar wilayah Kaum Sumedang itu.

Nenden hanya mendapati kisah bahwa perempuan itu sering dipanggil Ibu Suci atau Ibu Prabu.

Karenannya, sebelum tahun 2003, ketika Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), rumah itu dianggap sebagai rumah biasa, bukan rumah pengasingan seorang Pahlawan Nasional.

Bahkan, bangunan asli sebelum dilakukan pemugaran, nyaris roboh. Bagian paling kanan dari rumah itu condong ke barat dan ditahan sebongkah kayu.

Papan petunjuk rumah Cut Nyak Dien di Sumedang
Papan petunjuk rumah Cut Nyak Dien di Sumedang (Tribun Jabar/Kiki Andriana)
Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved