Kopi Gununghalu yang Pernah Dapat Penghargaan di Paris, Prancis Belum Dipasarkan Secara Maksimal

"Saat ini di wilayah ini ada sekitar 500 hektare kebun kopi, dengan 200 hektare di antaranya produktif berproduksi"

dokumentasi Desa Gunung Halu
Produk Kopi Gununghalu yang sudah dikemas untuk dipasarkan 

WILAYAH selatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang sudah terkenal dengan keberadaan perkebunan kopi, ternyata hingga saat ini belum mendapat dukungan dari pemerintah untuk memasarkan produknya.

Padahal, produk kopinya sudah sangat dikenal dengan nama Kopi Gununghalu. Bahkan, produk kopi tersebut pernah menyabet penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Prancis, tahun 2018.

"Saat ini di wilayah ini ada sekitar 500 hektare kebun kopi, dengan 200 hektare di antaranya produktif berproduksi," ujar Kepala Desa Gununghalu, Isep Heriatna saat dihubungi, Minggu (8/8/2021).

contoh produk kopi Gunung Halu
contoh produk kopi Gununghalu (shopee)

Ia mengatakan, hasil panen kopi tersebut ada yang dijual saat kopi masih basah, ada juga yang sudah berupa kopi bubuk siap seduh maupun biji kopi kering.

"Kopi produk Gununghalu memang sudah dikenal tapi masih terkendala pemasarannya. Padahal produksi kopi cukup melimpah," katanya.

Baca juga: Menghikmati Angin Lembah di Koffie Tandjoeng Sumedang Sambil Menyeruput Kopi Spesial Olahan Kaum Ibu

Hanya saja, kata dia, hingga saat ini memang belum ada produk atau destinasi pendukung lainnya yang bisa terintegrasi dengan produksi kopi tersebut.

Sehingga ketika wisatawan datang ke Gununghalu, kata dia, mereka tidak hanya sekadar mencari kopi, tapi bisa juga berwisata atau menikmati ragam kuliner lain. 

Baca juga: Kozi Coffee Dipatiukur bagi-bagi Kopi Hitam Gratis dan Makanan Saat Siang Hari

"Sebenarnya pernah ada pengusaha yang mendirikan cafe berikut oleh-oleh biji kopi atau kopi giling siap seduh. Tapi tidak berkembang karena di sini belum memilik destinasi wisata yang menjadi aset kunjungan," ucap Isep.

Camat Gununghalu Hari Mustika, mengatakan, di wilayahnya memang baru menjadi sentra produksi kopi, tetapi untuk saat ini belum memungkinkan ada semacam resto khusus untuk kopi Gununghalu. 

Baca juga: Setelah Pesan Kopi Bisa Jalan-jalan di Hutan Pinus, Nikmatnya Ngopi di Hutan Ala Warung Kopi Gunung

"Namun sedang dipikirkan upaya agar para pengunjung yang datang ke Gununghalu, kelak bisa mencicipi langsung kopi dari sumbernya, termasuk soal packaging juga kita perhatikan supaya lebih menarik bagi orang untuk beli," katanya.

Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah, menerangkan mengenai alat pengolahan kopi yang menggunakan listrik  tenaga mikro hidro di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Juli 2017 silam
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah, menerangkan mengenai alat pengolahan kopi yang menggunakan listrik tenaga mikro hidro di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Juli 2017 silam (Tribunnews)

Menurutnya, daya beli masyarakat sekitar yang masih rendah membuat kopi Gununghalu banyak dijual ke luar daerah, sehingga  ketika wisatawan datang ke Gununghalu, kopi kerap sulit didapat.

Padahal, kata dia, banyak wisatawan yang hendak ke Ciwidey atau Curug Malela melintasi Gununghalu. 

Baca juga: Segar dan Nikmatnya Kopi Nanas Subang, Minuman Penghilang Dahaga

"KaMI ini daerah lintasan. Ada potensi wisata tapi masih harus dikembangkan termasuk daya dukung infrastruktur jalannya," ucap Hari. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved