Pengusaha Tak Sanggup Menanggung Beban Operasional Akibat Sepi Tamu, Hotel Ditawarkan Rp 11 Miliar

"Pas adanya Covid sepi, lalu PSBB dan PPKM tambah sepi lagi. Kini tamu sepi tapi pihak pajak juga nelponin terus, boro-boro bisa buat bayar pajak

Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Hotel Pondok Gembyang di Rancabali, Kabupaten Bandung yang ditawarkan kepada pembeli karena beratnya beban operasional. 

ADANYA Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat PPKM pengusaha hotel dan restoran di Kabupaten Bandung pontang panting, bahkan sampai ada yang akan menjual seluruh asetnya.

Hal tersebut lantaran tak adanya pengunjung, hingga membuat tak ada pemasukan, dan pengeluaran tetap ada, seperti pemeliharaan, pajak, dan bayar pegawai.

Seperti halnya salahs atu  hotel di Rancabali, Kabupaten Bandung,  Pondok Gembyang, bukan sepanduk ditutup sementara tapi  terpampang spanduk dijual. 

Hotel Pondok Gembyang di Rancabali, Kabupaten Bandung yang dijual
Hotel Pondok Gembyang di Rancabali, Kabupaten Bandung yang dijual (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Saat dikonfirmasi kepada pemilik sekaligus pengelola Pondok Gembyang, Yanuar Ahmad Safari (41), membenarkan hotel tersebut akan dijual.

Yanuar mengaku, ia ingin menjual semua aset hotel tersebut karena tak sanggup lagi, dengan kondisi sekarang pemasukan tak ada pengeluaran banyak, kerugian lebih Rp 100 juta per bulan.

Baca juga: Objek Wisata di Daerah PPKM Level 3 Boleh Buka, Pembatasannya Diatur Kepala Daerah Setempat

"Pendapatan bulan Juni-Juli saja, hanya dapat Rp 2 juta. Itu hanya cukup bayar listrik, listrik juga Rp 1,5 juta per bulan. Ah pokoknya tekor pak, ngocek duit pribadi sendiri buat nombokinnya," kata Yanuar, saat ditemui di hotelnya, Jalan Raya Ciwidey-Patengan KM.38, Kecamatan Rancabali, Bandung,  Rabu (4/8/2021). 

Yanuar mengaku bingung dengan kondisi seperti ini, makanya diputuskan untuk dijual. "Ditambah bapak (saya) sudah gak ada, jadi keluarga berembuk dan memutuskan untuk dijual. Kami sudah gak kuat menghadapi PPKM seperti ini, sudah kami jual aja." katanya.

Baca juga: Tidak Ada Dana Cadangan, Pemasukan Tiada, Rugi Capai 1 Miliar, Beberapa Hotel Pasang Bendera Putih

Yanuar menjelaskan, di tempatnya itu terdapat 35 kamar, satu rumah, satu aula, dan tiga bak rendam di kamar deluxe.

"Pokoknya kami rugi besar, biasanya malam minggu kalau full bisa dapar Rp 20 juta, kalau hari biasa bisa 5 juta," kata Yanuar. 

Salah satu hotel di kawasan wisata di Ciwidey, Kabupaten Bandung mengibarkan bendera putih, Minggu (1/8/2021)
Salah satu hotel di kawasan wisata di Ciwidey, Kabupaten Bandung mengibarkan bendera putih, Minggu (1/8/2021) (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Yanuar mengaku, hotelnya sudah ada yang menawar hanya penawarnya mungkin saat ini belum ada uang yang besar juga.

"Kami mintanya mah Rp 11 miliar (untuk hotel ini), luas tanah ini 3.300 meter. Masih banyak tanah kosong, dijual semuanya dari mulai aset hingga surat perizinannya, aplikasi OYO, surat perizinan air hangat di Perhutani dan lainnya," tuturnya.

Baca juga: PHRI Minta Objek Wisata di KBB Dibuka Setelah PPKM Level 4 Berakhir Karena Kondisi Kritis

Yanuar mengatakan, pengurangan pegawai juga sampai lebih dari 50 persennya, sekarang nyisa 2 orang dari 10 orang.
 
"Takutnya gak bisa bayar gaji, bayar pakai apa? Sekarang ada tamu paling  sehari ada satu tamu, dua hari tiga hari gak ada," ucapnya.

Kalau bisa diharapkan Yanuar,  ada bantuan dari pemerintah memberi modal dengan cicilan ringan.

Baca juga: Asosiasi Kafe dan Restoran Pertanyakan Manfaat Sertifikat CHSE Jika Tidak Boleh Makan di Tempat

"Ada relaksasi perbankan lah. Kalau cicilan kan tetap harus bayar kami pendapatan dari mana, gak dibayar bunganya juga naik terus. Sekarang PPKM diperpanjang sudah tambah bingung kami juga harus gimana, segini juga bisa bertahan," tuturnya.

Yanuar mengatakan, hotelnya memang masih ada tamu, tapi hanya satu atau dua orang. Mereka datang melalui aplikasi OYO, tapi harganya minim.

"Hari ini ada tamu satu ada dari OYO. Jadi pemasukaan sedikit pengeluaran banyak. Sebelum PPKM ada masuk lah 10 tamu," katanya.

Baca juga: Pengelola Objek Wisata Bukit Sanghyang Dora Majalengka Kibarkan Bendera Putih Sebagai Tanda Frustasi

Bahkan, kata Yanuar, sebelum Pandemi Covid-19, setiap  malam Minggu hotelnya sering penuh, kalaupaun ada sisa kamar hanya 2 atau 3 kamar. 

"Pas adanya Covid sepi, lalu PSBB dan PPKM tambah sepi lagi. Kini tamu sepi tapi pihak pajak juga nelponin terus, boro-boro bisa buat bayar pajak kami, penghasiln juga minim," katanya.

Selain itu di sini, kata Yanuar,  fasilitas air panas alam yang digunakan hotelnya tiap bulan itu juga harus bayar ke Perhutani Rp 12 juta per tahun atau Rp 1 juta per bulan.

"Saat ini berat juga karena tamu tak ada, boro-boro buat bayar itu gaji pegawai juga udah engap-engapan. Hampir semua pengusaha penginapan resto, semua repot," ujarnya.

Bendera putih dikibarkan di salahs atu bungalow di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (1/8/2021)
Bendera putih dikibarkan di salahs atu bungalow di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (1/8/2021) (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved