Tidak Ada Dana Cadangan, Pemasukan Tiada, Rugi Capai 1 Miliar, Beberapa Hotel Pasang Bendera Putih

"(Pemasangan bendera putih), Bentuk ekspresi, karena kami gak mampu dengan kondisi seperti ini,"

Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Bendera putih dikibarkan di salahs atu bungalow di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (1/8/2021) 

BEBERAPA hotel atau penginapan, tempat wisata, dan restoran, di daerah Bandung selatan atau Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali (Pacira), Kabupaten Bandung Kibarkan bendera putih.

Bendera putih tersebut, rata-rata ditancapkan di depan pintu masuk, restoran, tempat wisata, atau hotel. Hal tersebut dilakukan, merupakan ekspresi karena tak bisa terus menghadapi kondisi, seperti PPKM Darurat ini.

Adapun yang mengibarkan bendera putih tersebut, seperti Ciwidey Valley, Pondok Gembyang, Bamboobery, Saung Gawir.

Salah satu hotel di kawasan wisata di Ciwidey, Kabupaten Bandung mengibarkan bendera putih, Minggu (1/8/2021)
Salah satu hotel di kawasan wisata di Ciwidey, Kabupaten Bandung mengibarkan bendera putih, Minggu (1/8/2021) (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Menurut bagian administrasi Ciwidey Valley, Bangkit Satria, mengibarkan bendera putih merupakan keputusan bersama dari PHRI.

"Memang tidak semuanya yang mengibarkan bendera putih karena di sini, tak semua juga masuk PHRI," kata Bangkit Satria, saat ditemui, Minggu (1/8/2021).

Baca juga: Sudah Tidak Ada Pemasukan Lagi, Pedagang di Pantai Balongan Indah Indramayu Kibarkan Bendera Putih

Bangkit mengaku, ia memasang bendera putih mulai 29 Juli 2020. Bendera putih di Ciwidey Valey, di pasang tepat dekat billboard Ciwidey Valey, dan diatas gapura masuk.

"(Pemasangan bendera putih), Bentuk ekspresi, karena kami gak mampu dengan kondisi seperti ini," kata Bangkit.

Baca juga: PHRI Minta Objek Wisata di KBB Dibuka Setelah PPKM Level 4 Berakhir Karena Kondisi Kritis

Jadi kata Bangkit, selama hampir 2 bulan ini, itu sudah tidak ada pemasukan. "Pemasukan sudah nol. Akhirnya kan dari karyawan ada pengurangan jam kerja, terus ada pembatasan operasional dari fasilitas hiburan kami," ucap dia.

Bangkit mengatakan, di sini kan ada kolam renang, tapi sekarang ditutup sementara, baik untuk reguler maupun tamu hotel. Lanjut dia, okupansi hotel pun hampir nol.

Baca juga: Kebun Teh Kembali Menjadi Tempat Wisata Alternatif di Tengah PPKM Level 4 Kabupaten Bandung

"Kalau restoran, kami gak bisa mengundang orang dari luar, rata rata di sini, restoran dari tamu hotel sendiri," tuturnya.

Bangkit mengaku, kemarin-kemarin saat masih bisa operasional bisa menutup pengeluaran, dan keuntungan masih belum ada. 

Baca juga: Petugas Keamanan Terus Mengimbau Wisatawan di RTH Citepus untuk Memperhatikan Protokol Kesehatan

"Begitu sekarang (saat PPKM) kami gak ada (pemasukan), gak ada dana cadangan, kami (untuk menutupnya) gak tau dari mana," ujarnya.

Jadi saat ini, kata Bangkit, yang adanya utang. Bayar supplier belum bisa. "Karyawan yang sekarang itu gajinya masih ditangguhkan, belum dibayar. Ya benar- benar tidak ada cadangan aja," katanya.

Baca juga: Semua Objek Wisata di Kabupaten Bandung Barat Ditutup, Disparbud KBB Sebar Surat Edaran

Bangkit mengaku, kerugiannya bulan ini cukup besar karena pengeluaran tetap ada, tapi pemasukan tidak ada. "Kerugiannya mungkin mencapai Rp 1 miliar per bulannya, bahkan mungkin yang lain, kerugiannya ada yang lebih besar, seperti Kawah Putih," ujarnya.

Bangkit, berharap pandemi Covid 19 segera berakhir, jadi bisa beraktivitas secara normal. 

Salah satu hotel dengan fasilitas pemandian air panas alami di Ciwidey, Kabupaten Bandung
Salah satu hotel dengan fasilitas pemandian air panas alami di Ciwidey, Kabupaten Bandung (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

 

"Kalau ini (PPKM) keputusan terbaik, kami ngikuti. Cuman untuk beberapa karyawan kami yang pendapatannya tergantung dari pekerjaan ini, berharap PPKM ini segera dibuka (selesai), jadi  bisa beraktivitas," katanya.

Selain tak diperpanjangnya PPKM, Bangkit juga berharap, terdapat relaksasi pajak dan pembayaran listrik.

Baca juga: Berkemah di Alam Terbuka Rancaupas, Ciwidey. Pemesanan Tiket Masuk Bisa Melalui Online

"Kalau sekarang itu relaksasi dari denda, tapi kalau pajaknya tetap. Kemudian listrik juga, kami juga Juni, Juli kami sudah tidak bisa bayar juga. Minimal kami ada pemasukan baru bisa bayar," kata dia.

Sebenarnya, kata Bangkit,  yang urgent itu kan listrik karena kalau telat bayar bisa diputus.  "Sekarang kami gak bisa bayar tepat waktu, dan listrik sangat dibutuhkan," ucapnya. (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved