Menikmati Nasi Merah di Tengah Kesegaran Alam Hamparan Sawah di Saung Kawangi Tanjungsari Sumedang.

"Biasanya yang akan datang memberi tahu kami dahulu melalui WhatsApp. Akan datang berapa orang"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Suasana Saung Kawangi yang dibangun di tengah lahan persawahan dan kebun tembakau di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Minggu (1/8/2021). 

ANGIN pelan di sekujur sawah menyapu beranda Saung Kawangi. Seketika, segar terasa di tengah terik kemarau di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang,  tempat di mana saung itu berada.

Wikipedia menjelaskan, saung adalah sebuah tempat untuk berkumpul dan bersantai, dengan suasana yang akrab dengan nuansa alam.

Saung Kawangi, rasanya lebih berkesan ketimbang definisi itu. Alasannya, bukan hanya nuansa alam dan santai yang didapat, tetapi juga rasa kenyang.

Suasana Saung Kawangi yang dibangun di tengah lahan persawahan dan kebun tembakau di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (1/8/2021).
Suasana Saung Kawangi yang dibangun di tengah lahan persawahan dan kebun tembakau di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Minggu (1/8/2021). (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Siapa pun yang datang berkunjung,akan disuguhi nasi dari beras merah yang ditanak menggunakan seeng di atas tungku.

Sajian itu, tentu saja lengkap dengan sambal mentah dadakan, jengkol goreng, ikan asin panggang, tahu dan tempe goreng, tumis genjer bercampur oncom, dan jika mau, orang bisa memesan ayam kampung atau ikan goreng.

Baca juga: Sate kambing Muda di Tanjungsari ini Benar-benar Empuk Lezat, Daging Kambingnya Disembelih Dadakan

Minumnya? Air teh hangat pada poci-poci seng khas zaman dahulu. Poci bercorak loreng, dengan cangkir yang terbuat dari seng pula.

Hebatnya, tidak ada tarif tertentu. Setiap orang yang makan dengan menu standar, yakni tanpa ayam dan ikan goreng, diharuskan membayar seikhlasnya.

Baca juga: Menghikmati Angin Lembah di Koffie Tandjoeng Sumedang Sambil Menyeruput Kopi Spesial Olahan Kaum Ibu

"Ini memang bukan sengaja pemiliknya membuka untuk umum. Semula, saung di tengah sawah yang tidak masuk sepeda motor apalagi mobil ini, hanya untuk keluarga," kata Opa Sayyidin (30), pengelola Saung Kawangi saat dikunjungi TribunJabar.id, Minggu (1/8/2021).

Saung itu berukuran 5x7 meter. Dibangun di tengah lahan persawahan dan kebun tembakau di Kampung Talun, Desa Pasigaran. Saung Kawangi itu milik Dedi Rasidi (45), kakak ipar Opa yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

Suasana makan bersama di teras Saung Kawangi di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang
Suasana makan bersama di teras Saung Kawangi di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Bahan-bahan kayu dan dan bilik bambu rumah itu tidak semuanya baru. Sebagian besarnya adalah bekas, yang dibeli ketika ada orang kampung memugar rumah mereka.

Saungnya cantik dengan warna dominan coklat dan polet biru. Berhalaman luas, serta di seberang rumah setelah halaman, ada kolam ikan memanjang.

Baca juga: Kampung Persib di Kecamatan Cintamulya Sumedang Bakal Jadi Desa Wisata Kebanggaan Warga

Di bagian dalam saung itu, ada sejumlah perabotan yang jadul. Lemari-lemari berbahan kayu jati masih berdiri gagah dan mengkilap.

Di atasnya, disimpan boboko atau bakul nasi dari anyaman bambu, serta susunan rantang. Tampak juga beberapa stoples kaca.

Baca juga: Kawasan Wisata Air Tanjung Duriat Sumedang, Tempat Tenang dan Nyaman, Tiket Masuk Terjangkau

Pun meja dan kursi yang sama jadulnya namun tampak sangat terawat. Di salah satu dinding saung, ada jendela yang jika dibuka, angin segera masuk dan menggembirakan orang-orang yang duduk di kursi, di bagian saung yang tampak sebagai ruangan keluarga itu.

Suasana di dalam Saung Kawangi di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang,  Minggu (1/8/2021).
Suasana di dalam Saung Kawangi di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Minggu (1/8/2021). (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Di tempat itu, tidak ada aliran listrik. Pun di depan, di pinggir jalan utama Desa Pasigaran, tidak ada papan pemberitahuan bahwa ada Saung Kawangi di tengah pesawahan.

Pengunjung yang datang pasti diantar oleh orang yang sebelumnya pernah datang ke saung itu.

Baca juga: Alun-alun Sumedang Jadi Pilihan Warga Lokal untuk Bersantai di Sisa Waktu Libur Lebaran

Namun, meski tidak ada plang, dan untuk mencapai ke saung perlu berjalan kaki menelusuri pematang sawah selama 10 menit dari jalan utama, Saung Kawangi tak pernah sepi pengunjung.

"Biasanya yang akan datang memberi tahu kami dahulu melalui WhatsApp. Akan datang berapa orang. Apalagi di musim pandemi ini, pengunjung harus terbatas," kata Opa.

Baca juga: Pemkab Sumedang Akan Langsung Denda Pengelola Objek Wisata yang Melanggar Protokol Kesehatan

Yang datang memang bukan satu atau dua orang. Kebanyakan pengunjung bersifat rombongan keluarga yang hendak menikmati suasana asri ala kampung.

Pada hari biasa, pengunjung yang datang biasanya dua atau tiga rombongan. Namun, pada akhir pekan, bahkan sejak Kami hingga Minggu, pengunjung setiap harinya bisa delapan rombongan.

Saung Kawangi yang dibangun di tengah lahan persawahan dan kebun tembakau di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.
Saung Kawangi yang dibangun di tengah lahan persawahan dan kebun tembakau di Kampung Talun, Desa Pasigaran, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved