Menghikmati Angin Lembah di Koffie Tandjoeng Sumedang Sambil Menyeruput Kopi Spesial Olahan Kaum Ibu

"Dulu, sebelum pandemi Covid-19, omzet kami mencapai Rp 20 juta atau Rp 25 juta per bulan. Ada pandemi, omzet kami anjlok"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Para ibu anggota kelompok wanita tani (KWT) Mekar Arum memilah dan memilih biji kopi di Kampung Cijolang, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang 

DESIR suara biji kopi diayak dalam proses sizing berkelindan cengkerama renyah kaum ibu. Mereka yang duduk lesehan sambil memilah kopi terbaik itu, disapu angin sejuk tak henti lembah Kampung Cijolang.

Begitulah suasana sehari-hari di Koffie Tandjoeng, sebuah melting pot bagi para petani wanita di kampung tersebut. Sebuah rumah panggung yang sangat terawat dan asri,  yang spasi lahan di sekelilingnya dijadikan ruang-ruang semi terbuka untuk pengolahan pascapanen kopi.

Pengolahan kopi yang semuanya dilakukan oleh para ibu anggota kelompok wanita tani (KWT) Mekar Arum bukan hanya memilah, tetapi sejak awal cherry kopi datang dari kebun.

Kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Arum di Kampung Cijolang, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang
Kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Arum di Kampung Cijolang, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Merekalah yang merambang, mengoperasikan mesin kelupas kulit kopi untuk proses tertentu, menjemur, hingga pemilahan itu. Sebagian perempuan malah terlatih untuk menggunakan mesin roasting, mesin yang selalu identik dengan maskulinitas.

Biji kopi baik yang telah dipanggang maupun masih berbentuk green bean olahan KWT Mekar Arum ini diberi brand Koffie Tandjoeng. Olahan kopi ini juga bisa dinikmati dalam keadaan sudah tersaji, sebab, di tempat itu juga diadakan kafe dengan variasi sajian serba kopi yang lengkap dan unik.

Baca juga: Segar dan Nikmatnya Kopi Nanas Subang, Minuman Penghilang Dahaga

Yang unik, misalnya, koktail kopi berpadu dengan irisan buah naga dicampur gula cair dan es, atau kopi berpadu dengan seduhan bungan telang, atau yang sedikit serius: cold brew dari kopi dengan proses wine yang nonjok segar. Dan yang tak kalah penting, siapapun dapat menikmati kopi sambil menghikmati angin dan umpalan hijau lembah di depan kafe tersebut.

"Ibu-ibu ini mengolah kopi bahkan dari proses panen di kebun, mereka yang memetik di lahan KWT Mekar Arum yang luasnya 10 hektare," kata Lilis Ciyarsih (45), Pemilik Koffie Tandjoeng sekaligus Ketua KWT Mekar Arum, saat dikunjungi TribunJabar.id, Minggu (25/7/2021).

Koffie Tandjoeng berada di Kampung Cijolang RT02/RW10, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Tidak sulit menuju ke tempat ini, hanya perlu berkendara sekitar 5 menit dari Alun-alun Tanjungsari.

Nama Koffie Tandjoeng sendiri seseungguhnya baru dipakai pada tahun 2017, sebelumnya, nama yang digunakan adalah Citra Manglayang, merujuk kepada lokasi perkebunan kopi yang berada di kawasan Manglayang Timur. Nama berganti sesuai harapan yang semakin kuat, yakni menyematkan nama Tandjoeng (Tanjung), nama pohon berbunga wangi yang besar manfaat.

Baca juga: Jangan Minum Kopi Luwak Sebelum Melihat Proses Produksi Kopi Luwak Cikole

"Mula-mula saya membeli garapan setengah hektare di tahun 2012 pada lahan yang ditanami kopi di tahun 2009. Mulai saat itu, proses pengolahan dimulai, ditambah lagi suplai kopi dari kebun-kebun yang dikelola KWT Mekar Arum," kata Lilis yang mengatur Koffie Tandjoeng bersama suaminya, Dicko Rossanda (53).  

Perjalanan cukup melelahkan diilalui Lilis bersama kelompok wanita taninya yang telah ada sejak 1998 itu. Yang cukup melelahkan itu terutama dalam proses pemanggangan yang masih manual, yakni sejak 2012 hingga 2017, roasting kopi hanya menggunakan tembikar.

Kegiatan kelompok wanita tani (KWT) Mekar Arum memilah dan memilih biji kopi di Kampung Cijolang, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang
Kegiatan kelompok wanita tani (KWT) Mekar Arum memilah dan memilih biji kopi di Kampung Cijolang, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Tetapi, kepayahan itu terbayar oleh penerimaan para pecinta kopi terhadap produknya. Terbukti dari order yang terus meningkat terhadap kopi bercita rasa sedap, menyegarkan, dan wangi itu. HIngga pada akhirnya, Lilis mesti makloon roasting ke Rancakalong.

Pun, soal pasokan cherry, karena lahan KWT Mekar Arum terbatas, akhirnya Lilis memutuskan untuk bekerja sama dengan penggarap di hamparan lahan Perhutani lainnya, seperti dengan para petani kopi di wilayah Ciharum, Jujuay, dan lain sebagainya.

Baca juga: Kopi Serbuk dari Biji Kopi yang Didapat dari Tujuh Gunung di Jabar Ini Cocok Sebagai Minuman Diet

"Saya pertama memasarkan lewat jaringan pertemanan. Ketika itu, pertama kali panen, kami punya persediaan green bean 45 kilogram. Kemudian berkembang, hingga kini, panen cherry 30 ton bisa memberi kami persediaan green bean sebanyak 7 ton," kata Lilis seraya bertutur kini Koffie Tandjoeng sudah memiliki alat-alat pengolahan lengkap, termasuk mesin roasting sendiri.

Penjualan kopi sendiri lebih banyak untuk penikmat kopi perorangan di lokal Sumedang, Bandung, Bekasi dan Jakarta. Namun, Koffie Tandjoeng juga menyuplai untuk kedai-kedai di Yogyakarta dan Karawang.

kemasan Koffie Tandjoeng
kemasan Koffie Tandjoeng (shopee)

"Dulu, sebelum pandemi Covid-19, omzet kami mencapai Rp 20 juta atau Rp 25 juta per bulan. Ada pandemi, omzet kami anjlok. Tapi kini berangsur membaik, kami bisa dapat Rp15 juta per bulan," kata Lilis.

Dalam perjalanan 9 tahun ini, Koffie Tandjoeng telah memberi manfaat besar, setidaknya bagi sebanyak 34 orang anggota KWT Mekar Arum. Kaum ibu mendapatkan pekerjaan yang dapat menambah penghasilan disela-sela menunggu suami mereka pulang dari kebun.

Baca juga: Eksis Sejak 1919, Kiliney Kopitiam Jadi Destinasi Favorit untuk Menikmati Kopi di Singapura

Kadang kala mereka mengerjakan proyek borongan mengolah kopi. Namun, jika mereka bekerja harian, upah mereka Rp 40 ribu plus sekali makan siang.

Kafe Koffie Tandjoeng di Kampung Cijolang RT02/RW10, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang
Kafe Koffie Tandjoeng di Kampung Cijolang RT02/RW10, Desa Margaluyu, Tanjungsari, Sumedang (restaurantguru.com)

Hal ini membuat Koffie Tandjoeng banyak dilirik oleh instansi pemerintah seperti Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang bidang Perkebunan, Dinas Perkebunan Jawa Barat, pun oleh pengelola Corporate Social Responsibility (CSR) Perbankan.

Baca juga: Menikmati Kopi Cikidang di Ketinggian 1.800 MDPL Puncak Bukit Belang Lembang

Di masa Covid-19 ini, penjualan kopi-kopi spesial di Kopi Tandjoeng memang sedikit terhambat. Namun, pemilik tidak berhenti menyediakan lahan kerja bagi para wanita tani itu. Derajat mulia apa lagi namanya jika dalam keadaan sulit pun masih memberi nafas untuk hidup orang lain? (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved