Mata Air Pantan Peninggalan Belanda Ini Berair Jernih dan Tak Pernah Kering, Objek Wisata yang Asri

"Pernah ada yang masuk ke lobang air itu dan keluarnya ternyata dari Situ Sangiang. Padahal jaraknya belasan kilometer kalau menurut logika mah..

Editor: Adityas Annas Azhari
Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Sejumlah anak sedang bermain air di Mata Air Pantan di Dusun Cigowong, Desa Ganeas, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka 

NAMA Majalengka makin ramai diperbincangkan saat Bandara Internasional Jawa Barat resmi beroperasi. Perbincangan itu makin hangat setelah daerah dengan sebutan kota angin ini memiliki “sejuta” destinasi wisata di dalamnya.

Nyatanya, jika dulu Majalengka hanya dikenal sebagai salah satu lumbung padi Jawa Barat, tapi kini mulai dikenal sebagai tujuan berwisata alam yang keindahannya tiada habisnya.

Majalengka juga dikenal ramah untuk semua traveler. Untuk yang senang bertualang, ada beragam air terjun yang siap memukau pandangan.

Mata Air Pantan di Dusun Cigowong, Desa Ganeas, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka
Mata Air Pantan di Dusun Cigowong, Desa Ganeas, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Untuk yang senang treking atau bersepeda, ada banyak jalur perbukitan yang siap ditaklukkan. Lalu untuk yang hanya ingin bersantai, bisa jalan-jalan menggunakan campervan keliling Majalengka.

Nah, baru-baru ini Majalengka sedang diperbincangkan akibat adanya mata air peninggalan zaman Belanda yang kini masih berfungsi dengan baik.

Baca juga: Kabupaten Majalengka Segera Memiliki Peraturan Daerah Pariwisata untuk Tingkatkan Pendapatan

Sumber air alam tersebut dikenal dengan nama Mata Air Cipantan yang berada di Dusun Cigowong, Desa Ganeas, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Meski bangunannya tua dan belum pernah dilakukan perbaikan, tetapi sumber mata air tersebut berfungsi dengan baik hingga sekarang, termasuk untuk kebutuhan irigasi sawah.

Baca juga: Curug Cipeuteuy dan Situ Cipanten di Majalengka Paling Banyak Dikunjungi Selama 4 Hari Libur Lebaran

Saat Tribun mencoba menjelajahinya, jalur menuju mata air peninggalan Belanda ini sulit dijangkau. Tidak ada akses menggunakan roda dua apalagi roda empat.

Jarak pengunjung dari memarkirkan kendaraannya ke titik mata air juga berjarak kurang lebih 500 meter. Dengan akses jalan setapak menyusuri saluran irigasi.

Baca juga: Ratusan Pendaki Pilih Jalur Pendakian Apuy di Majalengka untuk Mendaki Gunung Ciremai

Di lokasi mata air, pengunjung dimanjakan dengan nuansa asri khas pedesaan. Banyak pohon dan suara gemericik air menambah suasana sejuk makin terasa.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved