Gubernur Jawa Barat Minta Wisatawan Tidak Datang ke Kawasan Bandung Raya dalam Sepekan ke Depan

Jadi kalau tadi Bandung Raya 84 persen, Jawa Barat adalah 75 persen, itu juga sama sudah melewati batas kritis 70 persen

Tribun Jabar/Mega Nugraha
Pada libur lebaran lalu polisi menutup pertigaan Kamasan Banjaran-Soreang untuk mencegah wisatawan datang ke kawasan wisata di Kecamatan Pangalengan, Minggu (16/5/2021) 

GUBERNUR Jawa Barat Ridwan Kamil meminta masyarakat dari luar Bandung Raya untuk tidak bepergian ke Bandung Raya dulu selama sepekan ke depan, termasuk berwisata. Hal ini disebabkan Bandung Raya tengah berstatus Siaga 1 Covid-19.

"Kami mengimbau agar tidak ada wisatawan yang datang ke Bandung Raya selama tujuh hari ke depan, sampai pengumuman selanjutnya. Khususnya pariwisata yang memang Selalu ramai ada di KBB dan Kabupaten Bandung, kebetulan zona merah," kata Ridwan Kamil di Markas Kodam III Siliwangi, Selasa (15/6/2021).

Oleh karena itu, kata Ridwan Kamil, ia mengimbau wisatawan yang mayoritas dari DKI Jakarta, untuk tidak datang ke Bandung selama tujuh hari ke depan. Sehingga, katanya, kondisi Siaga 1 ini dipahami secara jelas bahwa Bandung Raya sedang menarik rem darurat untuk mengendalikan situasi penyebaran Covid-19.

Wana Wisata Batukuda di Kampung Cikoneng, Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung.
Wana Wisata Batukuda di Kampung Cikoneng, Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Shania Septiana)

"PPKM Mikro kaMI sangat berhasil sampai Hari Salat Idulfitri, itu rumah sakit hanya 29 persen, rekor itu. Tiba-tiba lompatannya hanya dalam dua minggu dalam sebulan ini melompat ke 75 persen. Jadi kalau tadi Bandung Raya 84 persen, Jawa Barat adalah 75 persen, itu juga sama sudah melewati batas kritis 70 persen," katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, katanya, merekomendasi kepada pemerintah pusat supaya tidak mengadakan libur panjang berikutnya, yakni selama Iduladha. Peribadahan Iduladha dimohon diberi petunjuk pelaksanaannya sesuai syariat, hanya tang wajibnya dilakukan.

"Tapi tidak liburnya, tidak mudiknya. Karena terbukti libur mudik Idulfitri betul-betul destruktif ya dalam keterkendalian yang sudah sangat baik selama PPKM mikro," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan Bandung Raya Siaga 1 Covid-19. Hal ini disebabkan dua daerah besar di Bandung Raya, yakni Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat kembali berstatus zona merah atau kawasan berisiko tinggi penyebaran Covid-19.

Bus Bandros mengangkut penumpan di Selter Alun-alun Bandung, Rabu (28/4/2021) sore
Bus Bandros mengangkut penumpan di Selter Alun-alun Bandung, Rabu (28/4/2021) sore (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

Selain pertimbangan dua zona merah tersebut, katanya, angka keterisian tempat tidur perawatan pasien Covid-19 di semua rumah sakit di Bandung Raya sudah sangat kritis, yakni rata-rata mencapai 84,19 persen.

"Wilayah Bandung Raya kami nyatakan sedang Siaga 1, bukan Jawa Barat ya, tapi wilayah Bandung Raya, karena minggu ini dua wilayah besarnya zona merah, yaitu KBB dan Kabupaten Bandung. Kemudian wilayah Bandung Raya ini keterisian rumah sakit sudah melebihi standar WHO maupun nasional yang di angka 70 persen, sekarang Bandung Raya ini sudah 84,19 persen," kata pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Dengan dua indikator tersebut, katanya, maka seluruh wilayah Bandung Raya, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, diinstruksikan untuk memberlakukan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah kembali selama sepekan ke depan. 

WFH ini yakni pegawai yang hadir secara fisik di kantor hanya 25 persen, sesuai instruksi Mendagri. Sedangkan sisanya yang 75 persen segera menyesuaikan diri untuk bekerja dari rumah, dengan pengecualian-pengecualian yang sudah pernah dilakukan pada masa WFH sebelumnya.

Suasana libur Idulfitri di Taman Bougenville Jalan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Sabtu (15/5/2021)
Suasana libur Idulfitri di Taman Bougenville Jalan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Sabtu (15/5/2021) (TribunJabar/Putri Puspita)

"Sekolah tatap muka kita tunda dulu ya khususnya yang zona merah pasti itu mah tidak boleh. Dan kedisiplinan, kita ada di 75 persen kalau tidak salah, Preesiden menginstruksikan ke angka 90 persen. Maka kami terus akan menggiatkan, tadi instruksi ke TNI dan Polri untuk melakukan turun lagi ke lapangan mengingatkan, shock terapi juga, agar kedisiplinan meninggi. Jangan sampai kita lagi Siaga 1 tapi kedisiplinan malah turun," katanya.

Semua daerah zona merah, katanya, diharapkan mengikuti instruksi untuk membatasi kegiatan termasuk kegiatan ibadah. Karena kalau sudah Siaga 1 zona merah, tuturnya, masyarakat harus paham untuk beribadah bisa dimaksimalkan dulu di rumah sampai situasi tidak lagi zona merah.

Daerah yang ditetapkan Siaga 1, katanya, adalah berdasarkan kajian zonasi per kota dan kabupaten. Adapun daerah lain yang memiliki sejumlah kecamatan zona merah dengan pertambahan kasus mengkhawatirkan, bisa difokuskan melakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

Contohnya, katanya, jika Pemerintah Kabupaten Garut menemukan peningkatan kasus signifikan di satu kecamatan atau desa, bisa dilakukan fokus penanganan secara mikro di tingkatan tersebut.

Wisatawan mencoba bermain ATV di The Mulberry Hills, Desa Cibodas, Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat
Wisatawan mencoba bermain ATV di The Mulberry Hills, Desa Cibodas, Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (TribunJabar/Putri Puspita)

"Silakan mereview, tidak seluruh Garutnya, karena dalam catatan kami tidak seluruhnya. Jadi dia bisa melakukan yang namanya pengetatan di zona-zona merah di wilayah Garut, tapi tidak semua, sesuai dengan zonasi zonasi berbasis kecamatan atau kelurahan," katanya.

Tapi khusus untuk Bandung Raya, katanya, karena kombinasi dari keterisian rumah sakit dan zona merahnya berbasis kota dan kabupaten, maka seluruh wilayah harus dalam satu keterkendalian. (tribunjabar/syarif abdussalam)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved