Jangan Minum Kopi Luwak Sebelum Melihat Proses Produksi Kopi Luwak Cikole

pengunjung dilarang meminum kopi luwak sebelum mengetahui cara dan proses produksinya

Tribun Jabar/Shania Septiana
Kopi Luwak Cikole 

JALAN-jalan menuju tempat wisata di Lembang yang memiliki berbagai destinasi menarik. Dengan udara segar dan bersuhu dingin, kita akan menenemukan sebuah tempat wisata edukasi.

Tempat ini adalah pusat penangkaran hewan luwak serta rumah produksi kopi luwak. Lokasinya di lereng Gunung Tangkubanparahu, tepatnya di Jalan Nyalindung No 9 Kampung Babakan, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Hewan luwak yang dipelihara di tempat ini mengikuti prinsip dan kaidah kesejahteraan hewan (animal welfare), dimana aspek kesehatan serta kebutuhan nutrisi dan gizi luwak sangat diperhatikan.

luwak tidur di kandang Kopi Luwak Cikole
luwak tidur di kandang Kopi Luwak Cikole (Kompas.com/khenzie godeleova)

Ratusan hewan luwak hasil pengembangbiakan oleh tim Kopi Luwak Cikole ini menghasilkan produk kopi luwak bernama Kopi Luwak Cikole.

Sang pemilik, Sugeng Pujiono merintis usaha dengan 5 ekor musang, kemudian berkembang biak dan kini berjumlah 125 ekor.

Sebagian kelompok aktivis menganggap produksi kopi luwak adalah kegiatan mengeksploitasi hewan. Namun kondisi ini membuat Sugeng  bersemangat membuktikan bahwa pernyataan tersebut tidak benar.

Produk kopi luwak Cikole
Produk kopi luwak Cikole (Kompas.com/khenzie godeleova)

Dokter hewan lulusan Universitas Airlangga ini merintis usaha produksi kopi luwak dengan fokus pada kesejahteraan hewan luwak sejak 2012 dengan mengusung bendera usaha Kopi Luwak Cikole.

Di tempat ini juga disediakan kafe bagi pengunjung yang akan mencicipi secangkir kopi luwak.

"Kami ada aturan tidak tertulis yakni pengunjung dilarang meminum kopi luwak sebelum mengetahui cara dan proses produksinya," ujar Rizki, edukator Kopi Luwak Cikole, Minggu (18/4).

Setiap pengunjung yang datang akan mendapatkan penjelasan yang gamblang dari tim ‘edukator’ tentang cara produksi Kopi Luwak Cikole, serta diajak melihat kegiatan proses produksinya secara langsung.

Kopi Luwak Cikole
Kopi Luwak Cikole (Tribun Jabar/Shania Septiana)

"Begitu datang langsung kami arahkan langsung untuk mengetahui dulu seperti apa proses produksi kopi luwak, ada juga pengunjung yang datang di waktu-waktu luwak tersebut buang air besar," ucapnya.

Kopi bukan makanan pokok sehari-hari yang dikonsumsi luwak,  kopi hanya sebagai sambilan yang mereka konsumsi. Sedangkan untuk konsumsi sehari-harinya luwak memakan  buah-buahan seperti pisang, pepaya di tambah dengan ayam, telor, susu, madu, dan kurma.

"Kami kasih makan luwak pakei kopi, itu hanya seminggu dua kali, hari Senin dan Kamis, sekali makan hanya sekitar 300 gram," ujarnya.

Kopi Luwak Cikole
Kopi Luwak Cikole (Tribun Jabar/Shania Septiana)

Karena banyak orang yang meragukan ke hallalan dari kopi luwak ini, karena kopi yang dihasilkan keluar bersama feses, maka sangat penting untuk pengunjung mengetahui yang sebenarnya.

"Banyak yang salah faham, asumsinya kopi luwak itu najis karena keluar bersama feses, nyatanya tidak. Kopi tersebut tidak bisa dicerna di dalam pencernaan luwak, sehingga tidak terjadi proses fermentasi, ketika keluar tetap utuh berupa kopi dan sel kopinya tetap hidup, bahkan akan tumbuh jika kembali ditanam," ujarnya.

Calon penikmat kopi luwak yang datang juga dimanjakan suasana rileks, dan nyaman untuk berinteraksi langsung, bermain dan berfoto bersama hewan luwak di lokasi ini.

Wisatawan lokal maupun mancanegara banyak berdatangan ke sini, terutama bagi mereka pecinta kopi luwak yang ingin merasakan sensasi kenikmatan Kopi Luwak Cikole.

Kopi luwak Cikole
Kopi luwak Cikole (Tribun Jabar/Shania Septiana)

"Sudah ada pelancong dari 53 negara, di antaranya Prancis, Denmark, Arab, Jerman, dan masih banyak lagi," ujar Rizki.

Setiap harinya, wisatawan yang berkunjung berkisar 200 sampai 300 orang. Tempat wisata edukasi ini buka Pukul 07.00 sampai 19.00.

Pengunjung yang sekadar ingin mengatahui bagaimana proses Kopi Luwak Cikole ini, tidak dipungut biaya sepeser pun, kecuali jika ingin menikmati kenikmatan kopinya yang dibanderol Rp 50 ribu per gelas. (tribunjabar/shania septiana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved