Perlu kolaborasi, Komunikasi, dan Koordinasi untuk Menghidupkan Sektor Pariwisata di Tengah Pandemi

"Kami terus berupaya menjalin kerja sama dengan semua pihak untuk menghidupkan kembali pariwisata yang menghadapi kesulitan"

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Sejumlah pengunjung saat bersantai di area mendarat paralayang di kawasan obyek wisata Buricak Burinong, Cisema, Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang. 

SEKTOR pariwisata menjadi salah satu bidang yang terdampak pandemi Covid-19. Pariwisata merupakan sektor industri yang paling terpukul padahal sektor ini dicanangkan sebagai Lokomotif perekonomian baik di level Nasional muapun Jawa Barat.  

Pariwisata sangat erat kaitannya dengan Sustainable Developmen Goals (SDG’s) yang telah dicanangkan oleh organisasi pariwisata dunia PBB. Hal ini disampaikan oleh Presiden IMA (Indonesia Marketing Association) Bandung, Dr Lina Auliana dalam  Webinar "Marketing Tourism : Beyond SDGs, Innovation & Local Wisdom, Jumat  (29/01/2021).

Menurut Lina,  marketing tourism menjadi sangat penting untuk membangun keberlanjutan serta dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Ina Auliana, Presiden Indonesia Marketing Association (IMA)
Ina Auliana, Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

"Konsep Marketing sebetulnya mengadopsi konsep sustainability, makanya dikenal istilah sustainability  marketing enterprise (SME), yakni model pemasaran yang digunakan menghadapi perubahan pasar yang semakin komplek dan komprehensif, di mana  dalam penerapan sustainability marketing ini perusahaan harus mampu memuaskan tidak saja hanya kustomer sebagai pasar komersil tapi juga employees sebagai kompetensi market, shareholders, dan investor sebagai capital market, dan terutama masyarakat dan lingkungan sebagai social market," ujar Lina.

Baca juga: Syekh Ali Jaber Ingin Bangun Pesantren Tahfidz dan Agro Wisata, Tempat Wisatanya Kini Viral

Lina menyebutkan, webinar tersebut membahas penekanan terhadap informasi dan dimensi marketing pariwisata di dalam aspek SDGs, inovasi, dan kearifan lokal, sehingga diharapkan dapat memberikan pemahaman dan manfaat bagi masyarakat, serta para pemangku kepentingan secara berkelanjutan. 

"Hal penting lainnya adalah mendorong supaya aspek pemasaran pariwisata ke depan semakin memperhatikan dimensi SDGs yang memberikan kebermanfaatan yang luas untuk masyarakat luas," katanya.

Pantai Pangandaran
Pantai Pangandaran (TribunJabar)

ina Auliana mengatakan,  SDGs dapat mengatasi masalah kesenjangan yang berada di masyarakat, oleh karena itu perlu dilakukan update mengenai segala macam aspek marketing pariwisata (marketing tourism) yang berkaitan dengan SDGs, inovasi, dan kearifan lokal.

Dalam kesempatan yang sama, keynote speaker,  Prof Arief Anshori Yusuf Guru Besar Fakultas Ekonomi Unpad, mengatakan, business development dan industri kreatif dalam sektor pariwisata dapat membantu memulihkan ekonomi masyarakat akibat Covid-19,  yaitu dengan menciptakan berbagai macam terobosan, akselerasi, dan inovasi dari semua stakeholder terkait. 

"Saat ini situasinya sedang tidak mudah karena pandemi, sehingga menjadi tantangan berbagai pihak untuk mencari cara atau solusi untuk menghadapi krisis saat ini" kata Yusuf.

Hamparan kebun teh di Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Hamparan kebun teh di Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan, Kabupaten Bandung. (kompas.com/Instagram @wwp1800skypark)

Menurut Anshori Yusuf, sektor pariwisata tidak akan lepas dari industri dan inovasi. Di dalam SDGs, tujuan ke-9 disebutkan, sebuah indutri harus berkelanjutan dan inklusif dengan mendukung pembangunan ekonomi dan kesejahteraan manusia, salah satunya dengan membuka lapangan pekerjaan. 

Disebutkan pula sebuah industri harus melakukan efisiensi penggunaan sumber daya dan mengadopsi teknologi inovasi yang ramah lingkungan.

Baca juga: Dessy Ratnasari Akan Menjadi Ikon Pariwisata Kabupaten Kuningan

Industri pariwisata yang berkelanjutan akan mementingkan kelestarian alam karena dibutuhkan dalam pembangunan di masa yang akan datang. 

Senada dengan itu, perwakilan UNDP Gusniar Nurdin dalam paparannya mengatakan, dalam pemulihan pariwisata melalui ekonomi kreatif dibutuhkan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan di tengah pandemi Covid-19, serta diperlukan juga gerakan untuk membangkitkan kembali ekonomi kreatif masyarakat sekitar destinasi wisata. 

Penampakan Kampung Cibuluh, Desa Tejamulya, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka
Penampakan Kampung Cibuluh, Desa Tejamulya, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka (TribunJabar/Eki Yulianto)

"Selaku pemangku kebutuhan masyarakat, SDGs dapat memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan berkualitas, serta komponen yang termasuk ke dalam akselerasi peningkatan nilai tambah pariwisata, ekonomi kreatif, dan digital," ujar Gusniar.

Kadisparbud Provinsi Jawa Barat, Dedi Taufik, menegaskan perlu adanya sinergi bersama dalam mengatasi sektor yang terdampak oleh Covid-19. 

Baca juga: Sekitar 50 Persen Hotel, Restoran, Hingga Objek Wisata di Purwakarta Tersertifikasi CHSE

Menurut Dedi, program CHSE telah diterapkan di seluruh destinasi wisata yang berada di Jawa Barat. Hal bertujuan agar setiap wisatawan yang masuk ke destinasi wisata di Provinsi Jawa Barat dapat melaksanakan protokol kesehatan. 

"Kami terus berupaya menjalin kerja sama dengan semua pihak untuk menghidupkan kembali pariwisata yang menghadapi kesulitan sebagai dampak dari covid-19," kata Dedi.

VP SDGs IMA Bandung, Ade Kadarisman, turut menambahkan, potensi desa wisata, seperti sumber daya alam dan sosial budaya akan membantu dalam meningkatkan potensi pariwisata berbasis SDGs. 

Baca juga: Baru 10 Persen Tempat Wisata di Kota Bandung yang Mengantongi Sertifikat CHSE

"Potensi desa wisata dengan memprioritaskan pada kelestarian alam dan budaya lokal akan dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan," papar Ade. 

Menurut Ade, yang terpenting saat ini adalah kolaborasi, komunikasi, dan koordinasi yang intensif dari seluruh pemangku terkait, termasuk masyarakat desa, sehingga akan terwujud ekosistem desa wisata yang memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan alam desa. 

Bukit Sagara di Kampung Sumur Banung, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.
Bukit Sagara di Kampung Sumur Banung, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. (Tribun Jabar/Rizal Jalaludin)

Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Bandung menjembatani berbagai stakeholder terkait pengembangan sektor pariwisata dalam negeri sehingga kedepan tujuan SGDs telah sesuai dengan 17 poin tujuan didalamnya. (tribunjabar/kemal setia permana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved