Produksi Nata de Coco Pangandaran Sedang Berkurang Akibat Pandemi Covid-19

"Tentu air kelapa kami banyak, karena sebagian besar di Pangandaran produksi kelapa kopra,"

Tribun Jabar/Padna
Proses Pembuatan Nata de Coco Setengah Jadi, Milik Ujang Saepudin Warga Kampung Ciokong, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran 

PENGUSAHA rumahan Nata de Coco yang berada di RT 04 RW 01 Kampung Ciokong, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, mengeluhkan pemasaran hasil produksinya, Selasa (26/1/2021).

Pasalnya sebelum pandemi Covid-19, seorang pengusaha nata de coco ini bisa memproduksi sekitar 1.500 sampai 2.000 lembar per harinya. 

Namun, berhubung terbentur pandemi Covid-19,  setengah produksi pun juga tidak terjual.

Proses Pembuatan Nata de Coco Setengah Jadi, Milik Ujang Saepudin Warga Kampung Ciokong, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran
Proses Pembuatan Nata de Coco Setengah Jadi, Milik Ujang Saepudin Warga Kampung Ciokong, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran (Tribun Jabar/Padna)

Bahkan banyak barang yang tersisa, karena semua pengiriman ke Cilacap ataupun Cianjur dibatasi sesuai kebutuhan pemasaran. 

Hal itu dirasakan oleh pengusaha rumahan nata de coco, Ujang Saepudin (52), yang memproduksi nata de coco sejak tahun 2010.

Baca juga: Sate Toe Khas Kalipucang Pangandaran, Rasanya Enak dan Harganya Murah

"Untuk pekerja saya, awalnya kurang lebih ada sembilan orang tapi berhubung adanya pandemi, sekarang menjadi enam orang, itu pun selingan pekerja," ujar Ujang, saat ditemui Tribun Jabar di rumahnya, Selasa (26/1/2021).

Menurutnya, sebelum pandemi dirinya bisa memproduksi mencapai 1500 hingga 2000 lembar per harinya atau dengan omzet Rp 2,25 juta sampai Rp 3,3 juta per hari.

Baca juga: Debong Pohon Pisang Ini Menjadi Keripik Renyah dan Enak Khas Pangandaran, Cocok untuk Oleh-oleh

"Namun sekarang setengahnya juga tidak ada, malahan sampai disetop menunggu pemasaran di sana (Cilacap dan Cianjur) habis," ucapnya.

Kalau untuk bahan baku air kelapa, menurut Ujang, di Pangandaran mudah untuk mendapatkannya.

"Tentu air kelapa kami banyak, karena sebagian besar di Pangandaran produksi kelapa kopra," kata ia.

Jadi, kata Ujang, masalah untuk bahan baku air kelapa banyak tersedia di PT Peccu serta pengusaha kopra lainnya.

Baca juga: Kelompok Wanita Tani Naga Asri di Kalipucang Pangandaran Memproduksi Permen Buah Naga

"Kalau per harinya cukup 2.200 liter yang diolah menjadi nata de coco setengah jadi, itu bisa menghasilkan sekitar 1.500 papan," katanya.

Ia berharap, ebagai pengusaha kecil rumahan, agar secepatnya pandemi ini tuntas dan bisa normal lagi seperti semula. Apalagi nata de coco juga oleh-oleh khas Pangandaran.

"Jadi tidak seperti saat pandemi Covid-19 ini, semuanya serba tersendat, dan buat makan saja susah," ucapnya.  (tribunjabar/padna)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved