Debong Pohon Pisang Ini Menjadi Keripik Renyah dan Enak Khas Pangandaran, Cocok untuk Oleh-oleh

"Harganya pun sangat terjangkau di kalangan masyarakat, mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per kemasannya"

TribunJabar/Padna
Keripik debong pisang karya Kelompok Wanita Tani Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran 

KREATIF dan inovatif, warga di Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, mengubah debong pohon pisang menjadi makanan yang enak dan layak konsumsi.

Debong pohon pisang yang memiliki kandungan vitamin C ini, dapat dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi makanan ringan, yang dapat di makan saat sedang santai atau ngobrol sama teman.

Mencarinya juga tidak susah, karena pohon pisang ini banyak tumbuh di wilayah perkampungan dan hampir semua memiliki pohon pisang.

Keripik debong pisang karya Kelompok Wanita Tani Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran
Keripik debong pisang karya Kelompok Wanita Tani Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran (TribunJabar/Padna)

Semua bagian pohon pisang ini, seperti buah pisang dan daunnya, banyak di manfaatkan oleh semua warga, tapi dengan bagian bonggol dan batangnya jarang di manfaatkan oleh warga.

Kebanyakan warga membuangnya atau digunakan untuk pupuk pohon pisangnya sendiri.

Namun, beda dengan yang satu ini, beberapa ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT), debong pohon pisang ini dapat digunakan sebagai bahan dasar membuat makanan ringan krispi yang renyah.

Debong pohon pisang yang dulunya sering dibuang, kini mereka olah menjadi makanan ringan Keripik Krispi Debong atau Krisbong.

Baca juga: Sate Toe Khas Kalipucang Pangandaran, Rasanya Enak dan Harganya Murah

Cara untuk mengolah pun tidak terlalu rumit, setelah debong batang pohon tersedia, debong tersebut diiris tipis-tipis dan direndam satu hari satu malam dengan menggunakan kapur sirih.

Tujuannya, adalah untuk menghilangkan rasa keset pada debong pohon pisang tersebut.

Setelah dilakukan pengirisan, selanjutnya hasil irisanya dicampur tepung kering dan langsung ke proses penggorengan.

Kemudian hasil penggorengannya, dicampur bumbu penyedap rasa seperti atom atau lainnya sesuai dengan rasa yang diinginkan.

Baca juga: Menikmati Aneka Kuliner Khas Sunda Sambil Berwisata di Saung Bumdes Pangandaran

Tapi ingat, debong yang bisa diolah menjadi Krisbong, hanya debong pohon pisang kepok karena saat dikonsumsi rasanya tidak keset.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Tunggilis, Atik mengatakan ini hasil karya kreativitas dan inovasi yang muncul dari kelompok.

"Awalnya, dulu hanya dikonsumsi oleh kelompok saja, ketika sedang kumpulan," kata Atik, saat ditemui Tribun Jabar dirumahnya, Rabu (13/1/2021).

Keripik debong pisang karya Kelompok Wanita Tani Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran
Keripik debong pisang karya Kelompok Wanita Tani Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran (TribunJabar/Padna)

Tapi, kata Atik, kemungkinan dari mulut ke mulut orang lain tahu, dan alhamdulillah dengan perlahan mulai ada yang memesan.

"Harganya pun sangat terjangkau di kalangan masyarakat, mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per kemasannya," katanya.

Namun , imbuh Atik, sebenarnya itupun tergantung pemesanan, kalau pesanannya banyak, tentunya harga bisa nego.

"Saya berharap, semoga kedepannya kripik debong ini bisa dijual di pasar luas, sehingga minimalnya bisa memberdayakan potensi sumber daya manusia yang ada disekitar wilayah Kecamatan Kalipucang," ucapnya. (tribun jabar/padna)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved