Penjualan Masker Merosot Sejak Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, Omzet Lapak Joni Menurun

 “ Awal mula saya menjual masker ini karena lihat banyaknya masyarakat yang membutuhkan masker"

Tribun jabar/job2-dika nurhuda ramadhan
Penjual masker di Jalan Rancaekek 

PANDEMI Covid-19  menjadikan masker sebagai kebutuhan pokok masyarakat . Penjual masker pun kemudian bermunculan hingga ke tepi jalan.

Seperti yang dilakukan Joni Siraj (40), seorang penjual masker sekaligus pemilik warung kopi di daerah Rancabatok, Jalan Raya Bandung-Garut, Rancaekek, Kabupaten Bandung, tepatnya di depan pasar swalayan borma.

 “ Awal mula saya menjual masker ini karena lihat banyaknya masyarakat yang membutuhkan masker dan juga masih belum banyak yang menjual masker, ya kira–kira hampir satu tahunan lah”ujarnya.

masker yang dijual di tepi Jalan Rancaekek
masker yang dijual di tepi Jalan Rancaekek (Tribun jabar/job2-dika nurhuda ramadhan)

Ia mengaku menjual masker ini dibantu sang istri di lapak yang berbeda.

“Untuk lapaknya sendiri saya berpisah dengan istri saya dan penghasilannya juga diambil buat masing – masing “ujarnya.

Dari penjualan masker itu ia  punya omzet yang terbilang lumayan. Satu harinya ia bisa meraup omzet Rp 100.000 sampai  Rp 500.000.  Hasil itu pun cukup untuk modal berjualan lagi dan modal untuk warung kopinya.

Namun omzetnya menurut setelah pemerintah membagikan masker secara gratis dan menetapkan masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).   

jual masker di Rancaekek
jual masker di Rancaekek (Tribun jabar/job2-dika nurhuda ramadhan)

Di masa AKB  ia hanya mendapat Rp 50.000 sampai  Rp 150.000, hal ini tentunya membuat pemasukan dia tersendat untuk modal usaha warung kopinya.

Penjualan masker untuk sebagian orang menjadi pembawa berkah, hal  ini disebabkan menjual  masker menjadi ladang usaha baru selama pandemi virus corona ini berlangsung. (tribunjabar/job 2-dika nurhuda ramadhan )

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved