Tahura Ajak Manfaatkan Ruang Kreatif Terbuka untuk Aktivitas Kebudayaan dan Keseniaan

“Cultural space ini bisa menghadirkan tentang kebudayaan dan kesenian di masa lampau untuk belajar tentang keluhuran budi"

Istimewa
RUANG KREATIF - Pengunjung menikmati acara di Cultural Space Tahura Djuanda saat soft opening, Sabtu, (14/11). Cultural Space ini disiapkan menjadi media luar ruang kreatif untuk menghantarkan pesan tentang kebudayaan dan kesenian agar ada interaksi yang konstruktif. 

ADA yang baru jika Anda sedang berlibur ke Taman Hutan Raya Ir H Djuanda (Tahura Djuanda). Kini, ruang terbuka yang dipenuhi hutan ini memiliki Cultural Space.

Cultural Space Tahura Djuanda atau CS Tahura Djuanda adalah ruang terbuka yang difungsikan untuk aktivitas kebudayaan dan kesenian.

Meskipun sebenarnya, setiap ruang di kawasan Tahura ini bisa difungsikan untuk aktivitas kebudayaan dan kesenian, namun CS Tahura Djuanda ini agak berbeda.

Suasana hutan pinus dengan area duduk di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Juanda, Dago, Bandung
Suasana hutan pinus dengan area duduk di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Juanda, Dago, Bandung (TribunJabar/Putri Puspita)

Kini pengelola Tahura Djuanda merancang dan membuat konstruksi sedemikian rupa, yakni salah satu ruang terbuka di tepi kolam dalam kawasan taman hutan raya ini.

Kepala Tahura Ir H Djuanda, Lianda Lubis, mengatakan, cultural space ini akan menjadi media luar ruang untuk menghantarkan pesan tentang kebudayaan dan kesenian supaya adanya interaksi yang konstruktif.

“Cultural space ini bisa menghadirkan tentang kebudayaan dan kesenian di masa lampau untuk belajar tentang keluhuran budi,” ujar Lianda, Minggu (15/11/2020).

Menurutnya, ruang ini juga akan menghadirkan kebudayaan kekinian untuk memahami apa yang sedang terjadi, masa yang akan datang, atau harapkan yang ingin diproyeksikan.

Baca juga: Menikmati Keindahan Taman Hutan Raya Ir H Juanda Bandung di Masa Pandemi, Ini Cara Reservasinya

“Di sini bisa menghadirkan tiga masa tersebut secara bersamaan yang menceritakan tentang kehidupan dan kemanusiaan,” katanya.

Di ruang interaksi kebudayaan dan kesenian ini, tidak mebeda-bedakan suku, agama, ras dan antargolongan. Siapapun atau komunitas manapun memiliki hak dan kewajiban yang sama atas ruang ini dengan batasan norma-norma yang ada.

“Tujuan dihadirkannya Cultural Space ini adalah untuk membangun nilai-nilai baik dan keluhuran bagi kemanusiaan, kelestarian lingkungannya, dan kesejahteraan,” ucap Lianda.

Lintasan pejalan kaki Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Juanda, Dago, Bandung
Lintasan pejalan kaki Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Juanda, Dago, Bandung (TribunJabar/Putri Puspita)

Cultural Space ini baru soft opening pada Sabtu, (14/11). Pada awal perkenalan ini, komunitas yang terlibat berasal dari kalangan perfilman, yaitu The Panas Dalam Movie dan komunitas Bitread Publishing.

Kolaborasi yang dibuat adalah karya perdana berupa sebuah film pendek bergenre horor yang berdasar pada sebuah cerita pendek dengan judul Hujan yang Tak Bersuara.

Dengan adanya ruang kreatif berbudaya di tengah hutan ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda yang ingin terus belajar mengenal akan budayanya. (tribunjabar/putri puspita)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved