Mengenakan Batik Tidak Akan Pernah Bosan, Batik Tidak Lekang oleh Waktu

“Jika dibalik, kata batik berarti kitab yang berarti hal-hal yang menjadi panduan dan panutan yang memiliki nilai-nilai sandangan"

Tribun Jabar/Kemal Setia Permana
Peragaan busana Batik Laksmi dalam acara Bincang Batik di Hotel Belviu, Bandung 

BATIK adalah salah satu warisan budaya asli Indonesia yang memiliki keindahan dan ciri khas. Banyak daerah di Indonesia dikenal sebagai penghasil batik berkualitas dan memiliki ciri khas motifnya masing-masing. Ini menggambarkan bahwa Indonesia memiliki sebuah warisan budaya yang luhur melalui karya seni batik yang identik dituangkan melalui media lukis kain.

Hal ini menjadi salah satu bahasan yang dikupas tuntas dalam “Bincang Cantik Tentang Batik” yang digelar komunitas batik Kota Bandung di Hotel Belviu, Jalan Dr Setiabudi, Bandung, belum lama ini,.

Acara ini menghadirkan sejumlah nara sumber yang kompeten di bidang batik, yaitu Dr Taty Augiarti SH MHKes (Dosen Fakultas Hukum Unpas dan Pemilik Batik Laksmi), Dra Saftiyaningsih Ken Atik MDs (Ketua Prodi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung), dan Wahyu Perdana Saputra S Ds (desainer dan Konsultan Tekstil), dengan moderator Vivie Navidia (Pemilik Numberone Broadcasting School, Certified PR dan Public Speaking Coach).

Peragaan busana batik Laksmi dalam acara Bincang Batik di Hotel Belviu, Bandung
Peragaan busana batik Laksmi dalam acara Bincang Batik di Hotel Belviu, Bandung (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

Dalam pemaparannya, Ken Atik menyampaikan bahwa menggunakan batik tidak akan pernah bosan karena terdapat banyak hal dalam batik. Menurutnya, batik merupakan sebuah hasil proses menggambar di atas kain yang menggunakan lilin panas dan alat yang disebut canting.

“Jika dibalik, kata batik berarti kitab yang berarti hal-hal yang menjadi panduan dan panutan yang memiliki nilai-nilai sandangan, bukan sekadar dipakai saja,” katanya.

Jabar juga memiliki daerah penghasil batik ternama, yaitu Tasikmalaya, Cirebon, Garut, Ciamis dan Indramayu. Tiga daerah, yaitu Tasikmalaya, Cirebon, dan Garut, bahkan sudah menghasilkan karya seni batik ciri khas masing-masing sejak tahun 1920 hingga kini.

Pemilik Batik Laksmi, Taty Sugiarti, mengungkapkan, perjalanannya memulai bisnis batik selain ia juga aktif sebagai dosen. Ia mengatakan, pada awalnya ingin memiliki sebuah bisnis di samping pekerjaannya sebagai dosen. Pada akhirnya ia memiliki bisnis batik dengan alasan bahwa batik tidak akan lekang sepanjang zaman.

“Saya coba bekerja sama dengan berbagai perusahaan, khususnya dengan perbankan untuk mengembangkan bisnis saya,” ucap Taty.

ada perkembangannya Taty melalui Batik Laksmi mampu menghasilkan sebuah ekosistem ekonomi kecil melalui bisnis batiknya.

Acara Bincang Cantik tentang Batik di Belviu Hotel Bandung
Acara Bincang Cantik tentang Batik di Belviu Hotel Bandung (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

Salah satu contoh, Batik Laksmi memakai kemasan khusus berupa boks yang dipesan khusus dari perajin lain dan perajin ini memberdayakan para ibu rumah tangga untuk memproduksi boks.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved