Belut dan Ikan Gabus Ini Banyak Khasiatnya dan Lezat Dikonsumsi, Banyak Dijual di Jalan Rumah Sakit

Jika tidak ingin membeli satu kilogram langsung, bisa juga membeli belut-belut yang sudah dipisahkan dengan plastik dengan beberapa pilihan harga

Tribun Jabar/job-wafda zahrotul ulya
Belut-belut yang dimasukan dalam air di kantong plastik dijual di tepi Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Ujungberung, Kota Bandung 

JIKA melintas Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Kota Bandung, akan terlihat beberapa penjual belut yang menggantung belutnya di bambu dengan menggunakan plastik berisi air.

Salah satu dari penjual belut ini adalah Raditya Pratama. Pemuda asal Tasik yang kini tinggal di Cibiru Bandung bersama istri dan anaknya itu sudah berjualan belut selama 15 tahun di Jalan Rumah Sakit.

Selain menjual belut, Radit juga menjual ikan gabus yang sama-sama digantung dalam plastik transparan berisi air seperti belut.

Belut-belut yang dijual di Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Kota Bandung
Belut-belut yang dijual di Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Kota Bandung (Tribun Jabar/job-wafda zahrotul ulya)

Belut-belut dan ikan gabus yang didapatkannya, berasal dari para pencari belut di daerah Sapan, Majalaya, dan Gedebage.

Belut ini didapatkan dengan cara disetrum oleh para pencari belut. Harga belut yang dibeli Radit dari pencari belut Rp.60.000 per kg, kemudian dijualnya Rp 70.000 per kg di pinggir Jalan Rumah Sakit tersebut.

Namun jika sedang jarang mendapat belut atau sedang kemarau, biasanya harga naik sekitar Rp 5.000 per kg. Radit membeli belut dan ikan gabus dari para pencari ini biasanya sekitar 10 kg setiap hari.

Jika tidak ingin membeli satu kilogram langsung, bisa juga membeli belut-belut yang sudah dipisahkan dengan plastik dengan beberapa pilihan harga.

Yaitu dengan harga Rp 10.000, Rp.25.000, Rp.35.000, sampai Rp.45.000 bergantung ukuran belut dan berat belut tersebut.

Radit berjualan dari Senin sampai Minggu. Ia biasa buka dari pukul 06.30 sampai 17.30.

Raditya Pratama, salah satu penjual belut dan ikan gabus di Jalan Rumah Sakit, Kota Bandung
Raditya Pratama, salah satu penjual belut dan ikan gabus di Jalan Rumah Sakit, Kota Bandung (Tribun Jabar/job-wafda zahrotul ulya)

Setiap harinya ia mampu menjual sekitar 3 kg belut dan 10 kg ikan gabus, Dengan pendapatan per hari Rp.400.000, namun jika sepi biasanya hanya mendapat Rp.100.000 per hari.

Pendapatan itu merupakan pendapatan selama pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, ia mampu menjual belut dan ikan gabus hingga 25 kg sehari. Namun sekarang penjualan turun hingga 40 persen dari sebelumnya.

Belut dan ikan gabus memiliki kandungan protein yang tinggi. Ikan gabus banyak mengandung protein albumin, yang baik untuk dikonsumsi anak-anak, orang dewasa, bahkan ibu hamil. Tidak heran mengapa pelanggan belut dan ikan gabus ini tetap banyak.

Radit juga menjual belut albino yang sangat jarang didapatkan. Harga belut albino ini dibeli dari para pencari dengan harga Rp 35.000 per ekor, kemudian dijual kembali dengan harga Rp 50.000 per ekor.

Belut-belut dalam baskom yang dijual di Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Kota Bandung
Belut-belut dalam baskom yang dijual di Jalan Rumah Sakit, Cinambo, Kota Bandung (Tribun Jabar/job-wafda zahrotul ulya)

Berawal dengan modal utama 2 juta, Radit memulai berjualan belut dan ikan gabus. Ia menjual belut dan ikan gabus, karena tidak mempunyai keahlian di bidang lain. Ia mengaku hanya lulusan SD.

Ia juga meneruskan usaha orangtuanya berjualan belut dan ikan gabus

Berrjualan belut dan ikan gabus ini penuh suka dan duka. Kisah sukanya karena ia mempunyai banyak pelanggan setia. Namun dukanya, setiap hari belut dan ikan gabus yang dijualnya ini selalu ada yang mati.

“Tapi jualan begini mah ada suka dukanya sih, karena kan belutnya gampang mati, jadi ya ga bisa dijualkan yang mati. Tapi ya alhamdulillahnya tiap hari pasti ada pelanggan gitu. Gak pernah sampai sepi banget” ujarnya kepada Tribun.

Belut dan ikan gabus yang mati, tentu tidak laku terjual. Karena pelanggan tidak mau membeli belut dan ikan gabus yang sudah mati. Belut yang mati setiap harinya bisa mencapai 4 kg, sedangkan ikan gabus hingga 10 kg.

“Kalau belut yang sudah mati tak laku dijual, ujung-ujungnya nanti dibuang atau dibagikan setelah pulang ke rumah. Kalau ikan gabus mati, masih bisa dijual dan dibuat pempek” ujarnya.

Menurut Radit, orang Jepang dan Amerika menyukai belut dan gabus yang dijualnya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved