Bromo KW Itu Sebenarnya Sanghyang Buruan, Pemotor Trail Pun Berjanji Menjaga Kelestariannya

tempat itu juga dikeliling hutan larangan karena bersifat hutan konservasi yang menjaga keseimbangan alam.

istimewa
Hamparan pasir Gunung Sanghyang Buruan antara Gunung Guntur dan Gunung Masigit, Kabbupaten Garut 

KOMUNITAS pemotor trail menyebutnya Bromo KW karena ada kemiripan landscape dengan Gunung Bromo di Jawa Timur.

Letak Bromo KW di Gunung Guntur, landscape-nya berupa padang pasir dan savana.

Lantas, apa nama lain dari tempat itu?

‎"Kalau nama aslinya Bromo Kw itu, sebenarnya bernama Gunung Sanghyang Buruan. Ketinggiannya ada di 2000 mdpl. Tempatnya berupa dataran savana. Lokasinya ada diantara puncak Gunung Guntur dan Gunung Masigit," ucap aktivis lingkungan hidup Gunung Institute,  Pepep Dw saat dihubungi Tribun, Jumat (23/10/2020).

Selama ini, Gunung Institute mengampanyekan Sadar Kawasan hutan dan Save Ciharus, sebuah danau di cagar alam Kamojang.

Menurut dia, ada kearifan lokal yang menyertai Gunung Guntur, termasuk Sanghyang Buruan. Kata dia, secara kearifan lokal, Sanghyang Buruan merupakan tempat habitat macan Jawa yang dijuluki Si Belang.

"Menurut cerita rakyat, Sanghyang Buruan itu tempat habitatnya Si Belang (Harimau Jawa). Selain itu, tempat itu juga dikeliling hutan larangan karena bersifat hutan konservasi yang menjaga keseimbangan alam. Jadi, kalau diakses, pamali, sama dengan menginjak kepala," ucap Pepep.

Hamparan pasir Gunung Sanghyang Buruan antara Gunung Guntur dan Gunung Masigit, Kabupaten Garut
Hamparan pasir Gunung Sanghyang Buruan antara Gunung Guntur dan Gunung Masigit, Kabupaten Garut (istimewa)

‎Menurut dia, aktivitas pemotor trail mengakses Sanghyang Buruan melewati hutan primer, dimulai sejak 2018. Sejak itu hingga saat ini, oleh aktivitas pemotor trail, telah terjadi perubahan ekologi.

"Tanah di hutan primernya berubah karena dilewati motor. Kemudian, landscape gunung dari awalnya rata berubah jadi ada sekat yang terfragmentasi," ujarnya.

Ia menambahkan, banyak di kalangan anggota komunitas motor trail yang sadar dengan kawasan hutan. Mereka tidak pernah berkendara di jalur kawasan CA.

"Salah satunya di Trabas. Bahkan saya sempat memberi materi soal pengenalan kawasan hutan. Sehingga Alhamdulillah, teman-teman di sana jadi banyak yang tahu," ucap dia.

Ia juga sudah bertemu dengan komunitas pemotor trail yang tergabung dalam Brother Netral (Neang Balad Adventure Trail)‎ Bandung.

"Kami sudah bertemu dengan teman-teman Netral Bandung. Intinya kami sepakat untuk kerja sama sosialisasi mengampanyekan perlindungan cagar alam," ucap Pepep.

Kasi Konservasi BKSDA Jabar Wilayah V, Dody Arisandy menambahkan, tidak ada istilah Bromo KW di kawasan Gunung Guntur.

"Maksud Bromo Kw itu kawasan berpasir, itu cagar alam. Cagar alam Kamojang komplek Gunung Guntur. Ya tidak diperbolehkan (masuk). Motor cross masuk ke kawasan konservasi TWA ‎ juga tidak diperkenankan karena merusak," ucap Dody via ponselnya, belum lama ini.

Ia mengatakan, selama ini pihaknya turut mengawasi dan melakukan penjagaan agar tidak ada aktifitas selain pendidikan di cagar alam.

"Kami keluarkan surat edaran juga bahwa tidak diperkenankan melakukan kegiatan di kawasan konservasi, baik di TWA maupun CA," ucap dia.

Ia mengaku sudah melakukan sejumlah upaya untuk menghindari aktivitas warga masuk ke kawasan cagar alam.

"Selama ini sering kami tertibkan. Ada berapa tempat tutup, kalau ketemu suruh pulang lagi," kata dia.

Heru Darmawan dari komunitas Brother Neangan Balad Adventure Trail (Netral) Bandung mengakui, banyak pecinta motor trail dari berbagai komunitas pernah menyambangi tempat itu. Dia dan komunitasnya mengenal tempat itu pada 2018.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved