Objek Wisata

Memandang Situ Sipatahunan, Danau Buatan di Baleendah yang Memanjakan Mata dan Asri

“Dulu pada tahun 70-an situs ini dibangun fungsinya untuk pengairan sawah, karena dulu di sekitaran situ ini dominan pesawahan”.

Tribun Jabar/job 2-Wildan Noviansah
Situ Sipatahunan di Baleendah, Kabupaten Bandung 

DAUN dan pohon rampak berjajar menyapa, genangan air yang beralih menjadi telaga luas serta udara segar menyeruak menjadi pelengkap Situ Sipatahunan, salah satu cagar budaya alam yang berlokasi di Jalan Situ Sipatahunan, RW 04, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Situs Leuwi Sipatahunan atau yang akrab disapa dengan sebutan Situ Sipatahunan merupakam danau buatan tertua yang ada di Kabupaten Bandung.

Danau tersebut dibangun pada tahun 1971 dengan proses pengerjaan berlangsung sampai tahun 1975.

Gerbang Masuk Situ Sipatahunan di Jalan Situ Sipatahunan, RW 04, kelurahan Baleendah, kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.
Gerbang Masuk Situ Sipatahunan di Jalan Situ Sipatahunan, RW 04, kelurahan Baleendah, kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/job 2-Wildan Noviansah)

Agus Rusmawan (63), ketua Petarung (Peduli Tata Ruang) yang bertanggungjawab atas pengelolaan danau tersebut bercerita mengenai alasan utama dibuatnya situ yang mempunyai kedalaman 14 meter tersebut.

“Dulu pada tahun 70-an situs ini dibangun fungsinya untuk pengairan sawah, karena dulu di sekitaran situ ini  adalah dominan pesawahan,” ujarnya sembari menunjuk kearah Situ saat ditemui, Selasa (13/10/20).

Seiring berjalannya waktu, sawah yang ada di wilayah Situ beralih menjadi deretan pemukiman warga.

Agus mengatakan, hal ini berdampak pula pada peran Situ Sipatahunan yang dulunya sebagai pengairan sawah sekarang beralih peran menjadi objek wisata dengan cara dibendung perairannya. Dia mengatakan peralihan ini terjadi sekitar tahun 1982 silam.

Disamping itu, dengan dibendungnya situ juga membantu warga dalam resapan air untuk kebutuhan sehari-harinya, terutama ketika kemarau melanda.

“Situ ini juga membantu perairan warga buat sumur warga sih terutama kalau kemarau kan sumur mereka kering,” kata Agus.

Suasana Situ Sipatahunan di Baleendah
Suasana Situ Sipatahunan di Baleendah (Tribun Jabar/job 2-Wildan Noviansah)

Agus menuturkan tanah yang membentang sepanjang 32 hektare dari Situ Sipatahunan ini milik pemerintah Kabupaten sedangkan air yang ada dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

“Untuk luas danaunya lima hektare, kalau keseluruhannya sampai 32 hektare dan ini milik Pemda, sedangkan yang mengelola airnya itu BBWS, pun kita Petarung yang menjaga tempat ini” ujarnya.

Peralihan Situ Sipatahunan menjadi tempat wisata ini mendapat respons positif berbagai lapisan masyarakat. Hal ini ditandai dengan pengunjung yang berdatangan tak hanya dari wilayah sekitar, pun dari luar kota seperti Kota Jakarta.

Jumlah pengunjung yang datang pun membludak setiap harinya. Agus menuturkan di hari kerja, pengunjung yang datang sekitar 100 hingga 200 orang. Sedangkan di akhir pekan, pengunjung meningkat pesat hingga mencapai 1.000 orang.

Pria yang akrab disapa Agus itu mengatakan biaya masuk ke Situ Sipatahunan ini sangatlah murah, hanya cukup membayar Rp 2.000. Pungutan biaya tersebut dipergunakan sebagai biaya kebersihan dan dialokasikan kembali untuk membangun infrastruktur di sana.

“Itu bukan biaya distribusi yang digunakan untuk simulan agar rajin melakukan kebersihan soalnya kan mereka gak ada yang gaji. Juga uang ini kami olah lagi untuk kepentingan Situ yang lainnya seperti pembuatan musala dan lain sebagainya,” katanya

Bukan hanya keindahan danau yang menjadi nilai jual utama, disana juga terdapat beberapa spot foto yang menarik didalamnya. Di dalam danau ini terdapat laboratorium alam pertanian yang digunakan untuk praktik sekolah pertanian dan Universitas Bale Bandung.

Situ Sipatahunan di Kabupaten Bandung
Situ Sipatahunan di Kabupaten Bandung (Tribun Jabar/job 2-Wildan Noviansah)

Fasilitas yang ada di danau ini sendiri cukup lengkap, mulai dari toilet umum yang bersih dan jumlahnya yang memadai, serta mushola yang nyaman digunakan.

Di sepanjang pinggiran situ ini juga dilengkapi deretan warung yang pedagangnya didominasi oleh warga sekitar.

Setiap tahunnya, di Situ Sipatahunan rutin dilakukan festival yang sering disebut Festival Sipatahunan.

Festival tersebut berisikan pameran kuliner tradisional, workshop alat musik bambu, workshop wayang golek dan masih banyak lagi.

Selain itu diselenggarakan juga kesenian daerah seperti Jaipongan, silat lumpur dan karinding.

Agus mengatakan khusus tahun ini festival tidak diselenggarakan karena terhambat wabah corona.

Bukan hanya respons dari masyarakat, sejauh ini respons yang diberikan pemerintah setempat cukup bagus terhadap Sipatahunan. Hal ini terealisasikan oleh bantuan yang diberikan BBWS dan proses pemagaran yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten.

Fajar Sidik (25), salah satu warga sekitar yang rutin mengunjungi Situ Sipatahunan ini mengatakan ia merasa senang dengan adanya objek wisata alam tersebut.

“Saya termasuk orang yang rutin berkunjung kesini soalnya kan rumah saaya deket dari sini. Enak sih sekarang mah sudah tertata, terus ada spot foto menarik murah juga kan bayarnya. Ditambah saya kan punya anak, jadi rutin bawa anak saya main kesini tiap sorenya,” kata dia.

Sebagai pengelola Situ Sipatahunan ini, Agus berharap Situ ini senantiasa eksis dan berkembang. Dia juga menuturkan agar pemerintah setempat kedepannya lebih mendukung dan memfasilitasi dalam hal anggaran terkait danau tersebut.  (job2/wildan noviansah)

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved