The Hallway

Ruang Nongkrong Asyik nan Kreatif di Dalam Pasar Kosambi Kota Bandung

“Kami di sini tidak hanya sekadar jualan produk, tapi juga konten. Ada juga tujuan besar yang dibangun dari The Hallway,”

Tribun Jabar/Deni Denaswara
Area Kuliner Hallway Space Kosambi 1 

PASAR tradisional kerap diidentikkan dengan kotor, bau, dan becek. Anggapan ini membuat pasar memiliki kesan yang sulit diubah. Namun, sulit bukan berarti tak bisa.

Buktinya, Rilly Robbi Gusadi mampu menginisiasi creative space di dalam Pasar Kosambi, dengan konsep hidden place, bernama The Hallway.

Pasar Kosambi adalah salah satu pasar besar yang identik dengan Kota Bandung. Nah, karena konsep dari tempat ini adalah hidden place, maka dari bagian luar, pengunjung hanya akan melihat bentuk Pasar Kosambi seperti biasanya.

Pengunjung yang pertama kali berkunjung ke The Hallway harus bertanya pada satpam atau pedagang di sana. Mereka nanti akan menunjukkan satu tangga di ujung. Tangga itu terasa agak gelap. Setelah melewati tangga, barulah pengunjung akan melihat beberapa jongko pasar.

Arena Kuliner di Hallway Space Kosambi Bandung
Arena Kuliner di Hallway Space Kosambi Bandung (Tribun Jabar/Deni Denaswara)

Di sana, pengunjung akan merasakan suasana yang jauh berbeda dengan pasar tradisional. Layaknya tongkrongan anak muda kekinian, itulah yang coba digambarkan The Hallway.

The Hallway memiliki 70 toko yang diisi 52 penyewa (tenant). Terdiri dari makanan dan minuman, fesyen, dan kebutuhan pehobi seperti sepeda, dekorasi, hingga barbershop.

Setting dan desain interior toko dibuat kekinian. Mulai dari penyusunan tempat, pencahayaan, kursi, lampu, dan lainnya. Begitu pun dengan makanan dan minumannya. Tempat ini menyediakan berbagai makanan asia, barat, dan tentunya Nusantara.

Minuman unik pun beragam di sini. Tidak hanya berbagai racikan kopi, minuman berbagai aloevera, kelapa, lemon, dan lainnya disuguhkan di sini. Untuk fesyen, mereka menjual berbagai jaket, sepatu, topi yang kebanyakan ditujukan untuk anak muda.

Hallway Space di Kosambi Bandung
Hallway Space di Kosambi Bandung (TribunJabar/Putri Puspita)

“Luas lantai II ini 1.400 meter, kita baru nempatin 20 persennya saja, dan beberapa lantai di gedung ini sudah 20 tahun terbengkalai,” ujar pengelola The Hallway, Rilly kepada Kompas.com, Jumat (2/10).

Memasuki tahap ketiga pengembangan, rencananya akan dibangun co-working space, area anak, hingga tempat untuk community activity.

“Karena ternyata pasar kami melebar, bukan hanya anak muda, banyak orang yang sudah berkeluarga datang ke sini. Makanya ada usul untuk membangun area anak,” ucap Rilly.

The Hallway buka setiap hari pukul 12.00-22.00 pada weekday, dan pukul 12.00-23.00 pada weekend.

Fashion Show dan Table Manner

DEMI menghidupkan suasana The Hallway, pihaknya menyiapkan berbagai event. Misal fashion show di pasar tradisional, seni rupa, seni musik, table manner yang menghadirkan chef terkenal dan lainnya.

Kemudian ke depan akan ada banyak komunitas yang bergabung seperti komunitas sepeda lipat. Namun karena dalam kondisi adaptasi kebiasaan baru (AKB) semua acara ini belum berjalan optimal.

“Kami di sini tidak hanya sekadar jualan produk, tapi juga konten. Ada juga tujuan besar yang dibangun dari The Hallway,” kata dia.

Kedai  Rameninpo di kawasan The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung
Kedai Rameninpo di kawasan The Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung (Tribun Jabar/Putri Puspita)

Salah satunya, konsep hidden place yang diusung ini. Salah satu tujuannya agar pengunjung bertanya ke pedagang pasar tradisional yang di bawah.

Siapa tahu dengan interaksi ini, pedagang pasar tradisional ikut mendapatkan imbas dari The Hallway. Misalnya, mereka sekalian beli sayur dan keperluan lainnya.

“Soalnya Pasar Kosambi ini rame-nya musiman, dan yang terkenal cuma dua, yaitu seragam dan tempe goreng. Mudah-mudahan dengan adanya The Hallway berimbas positif pada pedagang tersebut,” kata dia.

Jadi, ia mengajak anak muda untuk nongkrong di pasar. Sebab pasar tradisional itu tidak seperti yang dikatakan orang. “Yuk nongkrong di pasar,” ucap dia.

Munculkan Ide-ide Kreatif

WAKIL Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, berharap The Hallway ini dapat menjadi sebuah destinasi baru dan pusat aktivitas bagi masyarakat Bandung untuk berbelanja atau  berkunjung dan bercengkrama. Juga agar denyut perekonomian di Kosambi ramai seperti dulu.

Yana juga berharap hadirnya The Hallway terus mempertahankan gelar Kota Bandung sebagai Kota dengan segudang ide-ide kreatif.

“Pertumbuhan industri kreatif dengan mengedepankan anak-anak muda untuk terus berinovasi dapat menjadi penggerak roda perekonomian Kota Bandung, meskipun pada masa pandemi,” kata Yana saat ditemui di Balai Kota, Jumat (2/10).

Wakil Wali Kota Yana Mulyana di Hallway Space Kosambi
Wakil Wali Kota Yana Mulyana di Hallway Space Kosambi (Tribun Jabar/Deni Denaswara)

Seperti diketahui, pada masa jayanya Pasar Kosambi sangat ramai. Hal itu bermula pada tahun 1898 saat Pemerintah Hindia Belanda memindahkan pabrik Artille Constructie Winkle (pabrik senjata) yang menjadi cikal bakal Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad) dari Surabaya ke Kota Bandung.

Dimulai saat itu, perpindahan sejumlah tenaga pekerja pabrik senjata memicu munculnya denyut perekonomian di wilayah Kosambi.

Kosambi kemudian disulap menjadi sebuah pusat hiburan dan kebudayaan masyarakat Bandung saat itu. Di sana hadir dua gedung pertunjukan yang melegenda saat itu, yakni Sriwedari dan Srikandi. (kompas.com/reni susanti/tribunjabar/tiah sm)

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved